Jumat, 7 Juni 2013.
Sempat berpikir bahwa menyerah adalah jalan terbaik untuk menghadapi yang namanya frustasi.
Walaupun banyak suara yang memotivasi, semua seakan tidak bernilai dikalahakan suara hati, tepatnya suara hati yang sudah larut dalam letih.
Dunia serasa tidak adil, ada orang yang dengan mudah bahagia ketika orang lain walau dengan susah payah, namun tak pernah bertemu suka.
Namun, ada satu hal yang sering kita lupa, Tuhan. Sadar atau tidak, Dia sebenarnya selalu ada, entah kita ingat atau tidak, kita butuh atau tidak.
Saya, selalu berpikir bahwa hidup yang diberi Tuhan ini terlalu sulit, terlalu menanjak untuk didaki, dan selalu berujung pasrah dan menyerah menjelang akhir. Namun, hari itu, Rabu, 5 Juni 2013, hari dimana saya sudah dengan yakin untuk putus asa, sudah bulat untuk menyerah, petunjuk dari-Nya seakan menghantam nurani bertubi-tubi.
Hari terakhir itu saya mulai dengan bermain futsal, dengan teman satu jurusan di kampus. Saya sudah berpikir bahwa, hari ini memang akan menjadi hari terakhir saya, hari terakhir untuk semua hal yang berhubungan dengan kampus, hari terakhir saya bermain futsal dengan teman saya. Setelah dua jam lelah berfutsal, saya berbincang sejenak dengan teman saya, seketika terlontar satu kalimat dari ketua angkatan saya:
"Angkatan kita dikit banget yah cowoknya...."
Saya terhenyak sembari tersenyum lirih mendengar kalimat itu. Kalimat yang dalam simpulan pikir saya berarti:
"Kita sedikit, jangan sampai ada lagi yang keluar..."
Berlebihan mungkin apa yang saya simpulkan, namun itu yang saya rasakan, dan karena tak mau banyak berkomentar lagi, saya langsung pergi dari tempat itu setelah berpamitan.
Momen berikutnya, malam itu, ketika saya melihat satu dokumentasi tentang segala hal yang saya telah ikut berkontribusi di dalamnya, saya terharu, terlintas:
"...yakinkah saya akan meninggalkan ini semua?"
Selesai acara terakhir di organisai itu, saya melihat banyak pesan yang dituliskan oleh teman-teman, tentang saya dan kuliah saya, pesan-pesan yang membuat saya banyak menelan ludah, dan yang terpikir saat itu:
"...andai kalian tahu, saya tidak mau seperti ini, namun saya tidak punya pilihan lain, saya sering tidak masuk karena saya harus pergi..."
Saat saya terpana dengan tulisan-tulisan tentang say itu, satu suara menyadarkan saya:
"Lo jadi gak, mau ngelamar di D*********r , kalau mau nanti gue tanyain ke pemrednya..."
Saya hanya bisa diam mendengarnya. Ini tawaran kerja, ini yang saya butuhkan untuk bertahan. Belum sempat saya berpikir, tiba-tiba suara lain memanggil nama saya.
"...bisa ga tolong buatin video profil usaha saya, harganya berapa yah?"
Saat itu, saya hanya bisa berpiki:
"Kenapa Kau tunjukkan semua ini sekarang, saat hamba sudah yakin untuk pergi..."
Tuhan memang Maha Kuasa.
Sempat berpikir bahwa menyerah adalah jalan terbaik untuk menghadapi yang namanya frustasi.
Walaupun banyak suara yang memotivasi, semua seakan tidak bernilai dikalahakan suara hati, tepatnya suara hati yang sudah larut dalam letih.
Dunia serasa tidak adil, ada orang yang dengan mudah bahagia ketika orang lain walau dengan susah payah, namun tak pernah bertemu suka.
Namun, ada satu hal yang sering kita lupa, Tuhan. Sadar atau tidak, Dia sebenarnya selalu ada, entah kita ingat atau tidak, kita butuh atau tidak.
Saya, selalu berpikir bahwa hidup yang diberi Tuhan ini terlalu sulit, terlalu menanjak untuk didaki, dan selalu berujung pasrah dan menyerah menjelang akhir. Namun, hari itu, Rabu, 5 Juni 2013, hari dimana saya sudah dengan yakin untuk putus asa, sudah bulat untuk menyerah, petunjuk dari-Nya seakan menghantam nurani bertubi-tubi.
Hari terakhir itu saya mulai dengan bermain futsal, dengan teman satu jurusan di kampus. Saya sudah berpikir bahwa, hari ini memang akan menjadi hari terakhir saya, hari terakhir untuk semua hal yang berhubungan dengan kampus, hari terakhir saya bermain futsal dengan teman saya. Setelah dua jam lelah berfutsal, saya berbincang sejenak dengan teman saya, seketika terlontar satu kalimat dari ketua angkatan saya:
"Angkatan kita dikit banget yah cowoknya...."
Saya terhenyak sembari tersenyum lirih mendengar kalimat itu. Kalimat yang dalam simpulan pikir saya berarti:
"Kita sedikit, jangan sampai ada lagi yang keluar..."
Berlebihan mungkin apa yang saya simpulkan, namun itu yang saya rasakan, dan karena tak mau banyak berkomentar lagi, saya langsung pergi dari tempat itu setelah berpamitan.
Momen berikutnya, malam itu, ketika saya melihat satu dokumentasi tentang segala hal yang saya telah ikut berkontribusi di dalamnya, saya terharu, terlintas:
"...yakinkah saya akan meninggalkan ini semua?"
Selesai acara terakhir di organisai itu, saya melihat banyak pesan yang dituliskan oleh teman-teman, tentang saya dan kuliah saya, pesan-pesan yang membuat saya banyak menelan ludah, dan yang terpikir saat itu:
"...andai kalian tahu, saya tidak mau seperti ini, namun saya tidak punya pilihan lain, saya sering tidak masuk karena saya harus pergi..."
Saat saya terpana dengan tulisan-tulisan tentang say itu, satu suara menyadarkan saya:
"Lo jadi gak, mau ngelamar di D*********r , kalau mau nanti gue tanyain ke pemrednya..."
Saya hanya bisa diam mendengarnya. Ini tawaran kerja, ini yang saya butuhkan untuk bertahan. Belum sempat saya berpikir, tiba-tiba suara lain memanggil nama saya.
"...bisa ga tolong buatin video profil usaha saya, harganya berapa yah?"
Saat itu, saya hanya bisa berpiki:
"Kenapa Kau tunjukkan semua ini sekarang, saat hamba sudah yakin untuk pergi..."
Tuhan memang Maha Kuasa.