Bagian I
Terduduk di sampingmu,
bak tengah meneguk madu yang diendapi racun.
Rasa-rasa manis dan memabukkan,
ibarat tengah tenggelam di palung terdalam samudera di satu pulau di surga sana.
Sayangnya, ada racun yang tengah mengintai,
menunggu untuk membelalakkan sakitku,
dan menikam jantungku yang sebenarnya sudah rapuh.
Kamu madu dengan racun,
yang siap memicingkan mata jahatnya padaku.
Yang mau tak mau harus Ku telan,
seolah tak ada sakit, demi manismu.
Bagian II
Melihat rekah senyum-mu di pagi itu,
buati sebilah rasa yang bertumpuk rindu.
Mentari memang mampu hidupkan mawar,
namun seyum-mu lah yang buatkan harum pada nya.
Andai bisa Ku bingkai dalam kanvas putih,
lukisan senyum-mu itu,
logam mulia pun tak bernilai,
jika bersanding di ambangmu.
Tolong, jaga terus senyum itu.
Hidupku ini, Ku kaitkan pada bahagia di senyum-mu.
Sabtu, 21 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013
Pintamu bukan Pintaku, Saskia
Tatapan singkat di tempat makan sejuta umat itu,
membuatku sedikit terusik dengan ungkapan konyol "cinta pada pandangan pertama".
Aku yakin, orang selogis Kamu tak mudah menerima ungkapan itu sebagai fakta.
Namun, sepertinya itu sudah jadi nyata, setidaknya buatku, Saskia.
Mengenalmu dengan sangat singkat,
tanpa ada prolog: "Hai, siapa namamu?".
Tanpa ada salam hangat, atau senyum harap, Saskia.
Aku berani bertaruh malu ketika menawarimu secangkir susu.
Aku rela melawan beberapa pobhia-Ku karena titahmu.
Entah, Ku lakukan itu untuk menunjukkan apa.
Mungkin, hanya ingin tak terlihat banci di depanmu.
Di depan orang yang selalu memacu nadiku.
Di depanmu, Saskia.
Singkat waktu dan cerita.
Aku merasa ada "Kita".
Entah benar atau itu hanya bukti sahih bahwa Aku bergolongan darah O.
Golongan darah yang katanya perasa,
yang akhirnya Ku tahu, karena merelakan darahku diambil, di sampingmu, Saskia.
"Kita" itu memang harapku,
yang juga kadang terselip dalam kalbuku di setiap mengharap doa pada-Nya.
Harap yang selalu ku mimpi bisa terwujud.
Harap untuk ada "Kita", Aku dan Kamu, Saskia.
Satu waktu,
ketika Kamu mengirimkan sebuah pinta, padaku.
Pinta yang tak pernah ku minta untuk Kau pinta.
Pinta untuk segera meninggalkanmu, sebelum semuanya terlalu dalam.
Aku hanya akan berkata begini, Saskia:
"Kala semua teduh di bumi ini bisa digabung dengan seikat benang.
Saat sebuah paku payung dapat menembus pelindung gunung bermagma.
Ketika angin yang bertiup lamban dapat mengikis sumsum tulang.
Waktu itu lah (mungkin) Aku akan berhenti mengharapkanmu, Saskia."
Untuk Saskia, dari Aku, penggemar yang dicipta-Nya, untukmu.
Jumat, 15 November 2013
Do You Think You're Perfect? Just Say So!
Kamis, 14 November 2013
Feature: Kami Hanya Ingin Bermain
Sebuah tayangan feature layar kaca yang dibuat untuk menggugah tukang merintah Ibu Kota (khususnya) agar lebih peduli terhadap ruang terbuka yang layak untuk dijadikan tempat bermain anak-anak yang jadi warganya. Tempat yang mudah dijangkau, murah, dan bukan hanya sekedar impian belaka.
Selasa, 12 November 2013
Hati Mucikari
Fase ini adalah fase paling aneh.
Fase yang menghadirkan bukan hanya satu rasa.
Atau mungkin malah, fase yang sama sekali tidak menaruh asa?
Dulu, sangat sulit untuk membagi mentari.
Kini, bulan, bintang, bahkan hujan, mencari sinar pagi.
Kepada siapa harus bernyanyi?
Ketika Tuhan pun sudah ditinggal dengan keji.
Fase ini, entah fase apa.
Yang jelas, kejelasan pun tak ada di sini.
Selamat tinggal prinsip suci.
Selamat datang, hati mucikari.
Kamis, 24 Oktober 2013
Pangea
Kamus itu
ku buka sekenanya,
Love PANGEA voeppa . :)
Menjelajah
lembar demi lembar sibuk cari arti satu kata.
Pangea.
Kutemukan juga
artinya.
Katanya,
dahulu benua itu satu lalu berpisah jua.
Tapi,
kenapa saat dirasa-rasa itu kurang pas disukma?
Pas dengan
yang di dalam sini, ya di dalam hati.
Hati
berujar, kata itu rujukan dari sebuah hangatnya persahabatan.
Rupa pula
tentang bahagia paling gila yang dicipta.
Bahagia yang
tak pernah bisa dilupa.
Pangea.
Teorinya,
dari satu kemudian berpisah.
Namun
buatku, artinya dari berpisah, jadi satu.
Walau
kemudian harus berpisah, tapi tetap satu.
Pangea.
Bagiku itu
satu keluarga.
Suka,
duka, tangis, tawa, sudah dilewati sama-sama.
Di
Pangea.
Aku Percaya Semua Akan Indah pada Waktunya
Apa kalimat yang terakhir kau ucap
saat ragamu masih tak banyak kau kenal?
Aku ingat, ada sebuah pepatah…
Aku ingat, ada sebuah pepatah…
Oh ya? Bagaimana bunyinya?
Hmmm…Pepatah lama memang…
Oh begitu…
Bukan pepatah, penyesalan lebih tepatnya.
Hahaha…
Baiklah, bisa kau sebutkan kalimat
itu?
…seseorang akan berasa lebih penting ketika
telah tiada…
Maksudnya?
Aku kehilangan dia!
Aku kehilangan dia!
Siapa?
…
Baiklah, jika kamu tak ingin memberi
tahu itu siapa…Lantas, bagaimana kemudian?
Yaa…beginilah aku sekarang, sebagian pikiran 'childish'-ku telah merubahku.
Maksudmu?
Dari situ, pelajaran pertama yang ku dapat, jangan
sia-siakan orang yang telah menyayangimu.
Intinya?
Penyesalan ujung dari ini semua.
Jadi, kamu menyesal?
Emm…tapi tapi, penyeselan bukan akhir dari ini
semua.
Hmmm…
Malah, permulaan yang
baik aku rasa. Semua ada sisi positifnya.Kamis, 17 Oktober 2013
Tentang Rena, Tentang Waktu yang Telah Lama
Rena : “Kita tuh
emang dulu putusnya karena apa sih Bim?”
Bima : “Kalo ga
salah dulu abis pulang dari Taman Bunga itu, kita jarang ketemu, seinget gue
sih gitu, mentok disitu ingetan gue, hahaha…”
Rena : “Gue sih
ada sesuatu yang gue inget. Tapi nanti dulu deh, lo duluan suka sama Tea kan
daripada gue?”
Bima : “Iya, gue emang duluan jadian sam Tea, Ren…Inget apaan Ren, yang dimarahin nyokap gue itu yah? Hahaha…”
Bima : “Iya, gue emang duluan jadian sam Tea, Ren…Inget apaan Ren, yang dimarahin nyokap gue itu yah? Hahaha…”
Rena : “Ya yang
itu emang inget sih, tapi bukan itu doang Bim. Gue inget ada yang bilang kalo
gue ini cuma jadi pelarian lo dari Tea. Nyesek loh itu hahaha…”
== 0 ==
Sabtu malam waktu itu, Gue gak pernah berpikir akan memulai
sebuah kisah tentang sebuah rasa yang sebenarnya sudah selama dua tahun sebelumnya
selalu Gue simpan sendirian tanpa ada yang tahu. Malam hening itu, di sekolah
yang selalu Gue banggakan, Gue, Dani dan Bunga sedang berbincang masalah anak
muda yang selalu terlihat penting. Ya, cinta.
Bima : “…jadi gitu
ceritanya Bung, Dan…”
Dani : “Oh gitu,
hmmm, terus sekarang lo gimana ke Tea?”
Bima : “Ya ga
gimana-gimana sih, udah lama juga kan putusnya, ya gitu lah pokoknya, udah
biasa…”
Bunga : “Oh gitu.
Terus sekarang lo lagi suka sama siapa Bim?”
Bima : “Itu dia
sih Bung, yang pengen gue bilang, terutama sama lo…”
Bunga : “Maksudnya?”
Bima : “Gue emang
lagi suka sama seseorang nih…”
Dani : “Nah hayo
siapa tuh? Si Bunga yah Bim? Hahaha…”
Bunga : “Apaan sih lo
Dan, ga mungkin lah hahaha…”
Bima : “Bukan
Bunga ko…”
Dani : “Siapa
dong siapa? Sekolah disini juga pasti kan? Kelas berapa? Gue kenal ngga?”
Bima : “Iya di
sini juga, temen lo juga ko Bung…”
Bunga : “HAH?
Serius?”
Bima : “Iya,
ngapain juga gue bohong. Gue udah suka sama dia dari dulu sebenernya, dari pas
kelas satu. Cuma gue ga pernah berani bilang sampe sekarang…”
Bunga : “Pasti Rena
yah? Bener kan gue?”
Bima : “HHHHHHH…ko
lo kaya dukun gitu sih bisa langsung bener...???”
Bunga : “Oh beneran
Rena yah? Hahahaha”
Dani : “Seriusan
lo Bim suka sama Rena?”
Bima : “Iya, bisa
dibilang dia cewe pertama yang gue suka…”
Bunga : “Kok lo bedon
sih, kenapa baru bilang sekarang?”
Bima : “Gue ga
berani bilang Bunga…hahahaha”
Tanpa permisi, Bunga langsung menekan tombol panggil di
Nokia 2300 pink tercintanya. Gue penasaran siapa yang diteleponnya. Dan
ternyata…
Bunga : “Ren, gue
punya berita terbaru nih, ada yang suka sama lo tau…”
Sadar yang ditelepon itu ternyata Rena, Gue langsung panik. Gue
meraih lengan Bunga yang sedang menempelkan handphone di telinganya
Bima : “Ssst Bung,
apaan dah, eh jangan dong…”
Tapi Bunga berhasil berkelit, Dani bersekongkol menahan
badanku. Gue pasrah.
Rena : “Apaan sih
Bunga, malem-malem gini nelpon tiba-tiba bilang gitu, becanda aja ah…”
Bunga : “Ih seriusan
tau Ren, nih orangnya ada di depan gue, mau tau ngga siapa?”
Rena : “Eh, ini
beneran ngga sih? Jangan becanda dong Bung…”
Bunga : “Beneran
Rena, lo mau tau ngga orangnya siapa?”
*tuuut tuuut tuuut tuuut….*
Bunga : “Yah pulsa
gue abis…”
Bima : “Untung aja
abis…”
Bunga : “Eh tapi gue
masih ada bonus SMS…”
Jari kurus Bunga cekatan menekan-nekan tombol huruf yang
ada. Entah apa yang diketiknya…
Bunga : “delivered…”
Bima : “Eh lo
ngetik apaan…”
Bunga : “Gue bilang
yang suka sama Rena itu lo Bim, hahaha…”
Bima : “Ya ampun
Bunga, ko lo jahat banget sih…”
Bunga : “Ya abisnya
lo ga berani bilang sendiri, cuppuuu…"
Dani : “hahaha
tau lo Bim…”
Bunga : “Eh Rena
bales nih…katanya…dia ga percaya kalo ga denger dari orangnya langsung, kalo
pun emang bener, berani ngomong langsung katanya Rena, nah loh Bim hahaha…”
Bima : “Mampus
gue, ah lo sih Bung, gimana coba sekarang…”
Dani : “Nahahaha
gue ga ikutan…”
Bunga : “Nih yah,
kalo lo mau dianggap gentle, berani ngomong dong…”
Bima : “Nah
kalopun ngomong sekarang, caranya gimana? Ketemu langsung gitu ngomong
sekarang? Malem kali…”
Dani : “Telepon
aja, tapi kan pulsa lo abis tadi..."
Bunga : “Pake telepon
yang di kantornya kepala sekolah aja, Ibu gue ada kuncinya ko….”
Bunga adalah anak perempuan sulung dari Bu Siti, wakil
kepala sekolah kami. Bu siti memang dipercaya untuk menempati rumah dinas yang
ada di sekolah.
Bunga : “Nih gue udah
pegang kuncinya, yuk…”
Bima : “Nanti
dimarahin Ibu lo, Bung”
Bunga : “Tenang ibu
gue udah tidur…”
Setelah memastikan Pak Mamat, penjaga sekolah, sedang
bersantai di warung kopi depan sekolah, kami bertiga mengendap-endap memasuki
ruangan kantor kepala sekolah, dan tanpa lama-lama, telepon pun tersambung ke
nomor Rena.
Bunga : “Halo Ren,
ini gue Bunga, gue pake telepon kantor nih, mau nyambungin sms yang tadi
hahaha…”
Rena : “Hahaha,
jangan becanda ah Bung…”
Bunga : “Yee serius
Rena, lo kalo ga percaya nih ngomong sama orangnya langsung…”
Bunga langsung melempar gagang telepon tersebut, Gue
menolak, memaksa Bunga untuk segera menutup teleponnya.
Bunga : “Udah sih Bim
ngomong aja, kalo ngga lo nyesel loh, terus si Rena juga jadi marah…”
Bima : “Ah parah
lo Bung, gue mau ngomong apa dong…”
Rena : “Halo…”
Bima : “Halo,
Ren…”
Rena : “Halo, ini
Bima?”
Bima : “Iya Ren,
ini gue Bima, hehehe…”
Rena : “Oh iya
Bim, ada apaan emang Bim, tadi si Bunga bilang ke gue soal lo, hahaha…”
Bima : “Hhhh, iya
Ren, sorry yah soal Bunga…hhh gue mau ngomong apaan yah bingung Ren, hhhh…”
Rena : “Yaudah
atuh Bim, ngomong gapapa, santai aja hahaha…”
Bima : “Iya nih
Ren, sebenernya gue suka sama lo Ren, hhhh…”
Rena : “Nah loh ko
bisa? Sejak kapan dah Bim?”
Bima : “Jujur,
dari kelas satu gue udah suka sama lo, cuma ga pernah berani bilang, cupu yah
gue Ren…”
Rena : “Hah?
Seriusan Bim? Ko bisa sih suka?”
Bima : “Gatau juga
Ren, bingung jelasinnya gimana, ya suka aja…”
Rena : “Hahaha oh
gitu yah…”
Bima : “Iya Ren,
gitu hehehe, terus lo sendiri gimana Ren tanggapannya soal ini…”
Rena : “Hmmm,
hahaha, gimana yah, yaudah kita jalanin aja dulu gimana?”
Bima : “Maksud lo
pedekate gitu Ren?”
Rena : “Hahaha, ya
gitu deh…”
Bima : “Hahaha,
yaudah kita jalanin aja dulu yah Ren…”
Rena : “Iya, Bim,
jalanin aja dulu, hehehe…”
Bima : “Yaudah yah
Ren, sampai ketemu…”
Karena tak kuat lagi menahan grogi, Gue langsung memberikan
telepon itu ke Bunga. Dan dari situ lah semua cerita tentang Rena dan Gue
dimulai.
== 0 ==
Rena : “Hmmm,
kemaren sih ada yang cerita, katanya lu sekarang ada sesuatu gitu ke gue. Dan
gue pikir, itu mustahil dan ga mungkin Bim. Abisnya gue masih keinget yang dulu
yang katanya gue dijadiin pelarian dari Tea…”
Bima : “Hmmm…Kalo
soal pelarian itu, gue cuma bisa bilang itu ngga bener. Yaa kalo lo dulu
percaya soal itu, gue cuma bisa bilang itu ga bener sih, jahat banget lah kalo
lo gue jadiin pelarian, awal deket sama lo aja gue emang udah suka sama
lo...Ngejelasin ini sekarang berasa sia-sia yah, hahaha, lucu dah…”
Rena : “Hahaha iya
sih yah, jadi blak-blakan aja udah ini deh…”
Bima : “Hahaha iya
nih, terus apa yang dibilang orang itu Ren soal gue masih sayang sama lo, itu emang
bener, gue mah sih terserah lo mau percaya apa ngga soal hal itu…”
Rena : “Nah ko
bisa gitu?”
Bima : “Kalo soal
udah lama kenapa gue masih suka sama lo, sebenarnya, gue udah beberapa kali
berusaha buat deketin lo, inget ga hampir 3 tahun yang lalu, kita pernah deket,
SMS-an, gue niatnya mau deket sama lo lagi karena emang masih sayang sama lo,
tapi ternyata lo waktu itu udah punya pacar dan baru jadian, yaa akhirnya gue
ngejauh…”
Rena : “Tiga tahun
yang lalu? Awal kuliah dong?”
Bima : “Iya, Ren…”
Rena : “Emang
pernah deket yah? Ko gue lupa yah hahaha”
Bima : “Iya Ren,
emang cuma lewat sms itu juga…”
Rena : “Oh iya gue
inget, tapi ga terlalu intens ah kita…”
Bima : “Iya sih,
jadi waktu itu, gue bilang ke lo kalo gue masih sayang, dan lo bilang lo udah
punya pacar, hahaha…”
Rena : “Hmmm…”
Bima : “Nah, ada
lagi Ren, kemaren pas kita baru kontak-kontakan lagi, ada hal yang bikin gue
akhirnya mulai berharap bisa balikan sama lo…”
Rena : “Nah, itu
kenapa tuh bisa gitu?”
Bima : “Jadi gini,
Ren…
Bima : “Ada yang marah ga nih, hahaha…”
Rena : “Hahaha, klise banget dah Bim pertanyaan
lo hahaha…”
Bima : “Haha iya yah, modus-modus gimana dah…”
Rena : “Kaya anak SMP lo hahaha. Tenang, gue
kalo lagi ga pacaran jomblo ko, Bim…”
Bima : “…gitu Ren ceritanya, gue kira lo emang beneran jomblo, jadi
dari situ deh gue mulai muncul harapan buat balik lagi sama lo…”
== 0 ==
Ketika bintang dan bulan berteduh di bawah langit malam dari
hujan, Gue hanya bisa memandang harap yang selalu coba Gue usap supaya hilang,
paling tidak dibiarkan using. Namun, ada satu hal yang sampai saat ini belum
bisa diterjang, itu cuma rasa sayang.
Rabu, 25 September 2013
Pesan dari Bela
Jam setengah 8 malam. SMS terakhirku belum dibalas oleh
Bela. Malam minggu yang cerah ini, tiba-tiba menghadirkan mendung di hati.
“Kemana yah Bela…???”
Sejam berikutnya, masih belum ada balasan. Ku hampiri Rizal
yang sedang khusyuk nonton bola di lantai atas.
“Zal, BBM-in Dina dong, tolong tanyain dia lagi sama Bela
nggak?”
“Lah emang kenapa si Bela…”
“Ga tau nih, dari maghrib tadi belum bales sms gue…”
Mendung tadi mulai berubah hujan.
==0==
“Gue belum makan apa-apa nih Kak, dari pagi…”
“Lho ko gitu? Kenapa Bel? Makan lah…”
“Gatau kak, ga pengen aja…”
“Yah, yaudah, gue beliin sate padang aja yah, lo harus makan
pokoknya…”
“ :)
“
Layar handphone Sony Ericsson K550 itu pun meredup seraya
dengan lembut masuk saku kemejaku. Es teh manis yang sejak tadi ku pandangi
langsung ku seruput habis.
“Zal, bentar yah, gue mau beliin Bela sate padang dulu, dia
katanya belum makan dari pagi…”
“Yaelah kebiasaan dah…”
“Bentar yah...”
Mata menjalar ke sekeliling kantin kampus, mencari penjaja
sate padang, makanan kesukaan Bela. Binggo. Kepulan asap sate dari pojok kantin
itu tak bisa menipu.
“Uda, satu porsi aja yah…”
“Siap laksanakan, dek…”
Ku tengok lagi layar handphone, belum ada sms lagi dari Bela.
Jam di screennya menunjuk pukul 13.19. Sabtu siang menjelang sore. Cukup siang,
dan juga cukup lama untuk menahan lapar di perut sedari pagi. Dasar Bela.
“Ini dek…”
“Ini uda uannya, makasih uda…”
“Sama-sama dek…”
Satu bungkus sate padang lengkap dengan lontongnya sudah di
tangan.
“Zal, yuk…”
Aku dan Rizal pun beranjak dari kantin. Berjalan keluar
menelusuri jalanan kecil di belakang kampus. Sepuluh menit berlalu dan tiba
tepat di depan kontrakan Bela.
“Bel, gue udah di depan nih…”
“Bentar yah ka, gue baru selesai mandi…”
“Oke…”
Lima menit. Sepuluh menit. Bela masih belum menampakkan
diri. Rizal mulai menunjukkan muka bosannya.
“Yud, gue duluan ke kostan yah, kebelet nih gue sakit perut…”
“Yaudah, kuncinya di lo kan?”
“Iya, duluan yah…”
“Yoo, thank you Zal…”
Lima menit kemudian, Bela baru muncul. Dengan Jeans panjang
dan t-shirt polos warna pink. Simple tapi tetap cantik, apalagi ditambah senyum
yang merekah di wajah cerahnya.
“Aduh, maaf banget nih, jadi ngerepotin Ka Yuda…”
“Santai aja bel, berasa ke siapa aja, ini sate padangnya,
dimakan yah…”
“Hehe iya ka, pasti dimakan, makasih banyak yah ka…”
“Mau pergi Bel?”
“Ah, ngga ko ka…”
“Oh, yaudah gue balik yah, jangan lupa tuh dimakan, haha…”
“Iya ka, makasih yah ka…”
“ :)
“
==0==
“Duh, gue gak tau Zal, gue dari siang udah ga dikontrakan,
tadi bilang sih mau pergi, tapi gatau deh…”
“Oke sip, makasih yah Din…”
Begitu percakapan Rizal dan Dina di BBM. Harus ku tanya
siapa lagi?. Di telepon pun tidak aktif.
“Sebenernya gue tau ko Bela kemana Yud…”
“Lah, lo tau?”
“Iya, gue tadi BBM-an…”
“Sama Bela?”
“Bukan, sama Dimas, pas gue tanya dia bilang lagi sama Bela…”
“Serius lo Zal?”
“Ngapain juga gue bohong sih, lo mending lupain Bela deh…”
“Lah ko gitu?”
“Mereka baru aja jadian…”
Hujan tadi berubah badai.
"Ka, gue emang suka sama lo, cuma gue lebih suka ke dia, gue harap lo ga marah yah ka dan gue harap lo ga ninggalin gue. Maafin gue yah ka...Maaf"
Sabtu, 03 Agustus 2013
Obrolan Santap Siang
"Haai, nggak nyangka banget kita bisa jumpa ketemu lagi..."
"Iya yah, haha, udah lama banget, sejaaak..."
"...hahaha lo apa kabar sekarang? Udah jadi orang nih kayaknya? Hehehe"
"Ah lo kali yang pastinya udah banyak uang..."
"Biasa aja kok, lo kerja di mana?"
"Di daerah Sudirman, tapi sayangnya gue gak mau ngasih tau di mana rincinya, biar lo penasaran..."
"Yeee siapa juga yang mau tau, hahaha, gue sekarang udah gak sepenasaran dulu kali..."
"Yakin?"
"Mau bukti?"
"Enggak juga sih..."
Rini, gadis 23 tahun, yang bekerja di daerah Sudirman itu, sebenarnya berkarir sebagai salah satu anggota tim marketing dari sebuah perusahaan media besar di ibu kota. Gadis berparas ayu dengan kulit khas wanita jawa, yang tak pernah bisa untuk tidak tampil modis walau dalam balutan busana eksekutif muda.
Kamis siang itu dia tak pernah menyangka akan bertemu Bagas, sosok pria yang kini telah berubah 180 derajat jadi stereotipe metroseksual. Pria 24 tahun berdarah minang ini tengah bergelut dengan usahanya yang kian melangit.
"Cari makan Rin?" tanya Bagas.
"Bukan, mau cari jodoh..."
"Hahaha, jutek amat sih, mbak, emang kemana jodohnya sampe dicariin ke tempat makan gini? Hehehe..."
"Udah ah, jangan bahas begituan..."
Rini, gadis 23 tahun, yang bekerja di daerah Sudirman itu, sebenarnya berkarir sebagai salah satu anggota tim marketing dari sebuah perusahaan media besar di ibu kota. Gadis berparas ayu dengan kulit khas wanita jawa, yang tak pernah bisa untuk tidak tampil modis walau dalam balutan busana eksekutif muda.
Kamis siang itu dia tak pernah menyangka akan bertemu Bagas, sosok pria yang kini telah berubah 180 derajat jadi stereotipe metroseksual. Pria 24 tahun berdarah minang ini tengah bergelut dengan usahanya yang kian melangit.
"Cari makan Rin?" tanya Bagas.
"Bukan, mau cari jodoh..."
"Hahaha, jutek amat sih, mbak, emang kemana jodohnya sampe dicariin ke tempat makan gini? Hehehe..."
"Udah ah, jangan bahas begituan..."
"Sensitif banget emang kalo jomblo udah ngomongin jodoh, hahaha..."
"Ye kaya yang gak jomblo aja lo!"
"Ya enggak lah, sorry, hahaha..."
Hening menyeruak seketika. Apa yang tak pernah ingin didengarnya baru saja diucapkan Bagas. Rini tertegun sunyi. Bagas yang kebingungan melihat Rini mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Rini.
"Woy, ngelamun Bu?"
"Hhh, enggak, gue mau makan dulu ah..."
"Bareng dong..."
Jam makan siang, waktu yang selalu ditunggu oleh para pencari rupiah untuk melepas sedikit lapar dan penat. Waktu yang juga sangat ditunggu oleh para pemilik tempat makan untuk menambah pundi. Ramai, kadang bisa sesak. Namun, suasana ramai dan bising itu seolah tak mempan buat dua pasang manusia yang baru saja menghabiskan santap siangnya. Ada yang buat Rini menyeruakkan sunyi itu, dan Bagas hanya bisa mengikuti sunyi itu, tak berani untuk memecahnya, terlalu berisiko pikirnya. Tapi, akhirnya...
"Cewek lo orang mana? Temen kerja?"
"Oooh jadi dari tadi diem terus mikirin itu toh..."
"Gue makan yah daritadi makanya diem..."
"Iya iya, galak amat..."
"Jadi, gimana?"
"Gimana apanya?"
"Pertanyaan gue tadi, jawab dong!"
"Mau tau banget yah? Hehehe"
"Ih rese, bete ah ngomong sama lo"
Muka ayu Rini berubah masam seketika, seraya badan yang setengah dibalikkan tak mau melihat Bagas. Wanita yang terlihat elegan itu seketika jadi melankolis ditambah childist jika sudah di depan Bagas.
"Mulai deh ngambek-ngambek gak jelasnya, hahaha"
"Bo...do..."
"Mending ceritain kenapa lo masih jomblo? Aneh banget, cantik cantik kok jomblo..."
Rini semakin bertambah kekesalannya mendengar ocehan Bagas seperti itu. Rasa kesal yang sebenarnya sedang berusaha keras menutupi rasa lain yang tak mau ditunjukkannya di depan Bagas.
"Gue jomblo karena memang gue mau, yang ngedeketin gue banyak kok, tapi ga ada yang berhasil masuk standard gue tuh..."
"Widiih, standard-nya tinggi banget kayaknya nih..."
"Jelas lah, kalau mau SERIUS ya harus gitu, biar gak BERHENTI di tengah jalan. Umur segini kalo cuma mikirin buat pacaran sih GAK BANGET..."
Bagas tersentak menelan ludah, merasa tertohok dengan ucapan Rini. Gadis yang sudah dia kenal hampir sewindu itu, tak sekanak-kanakan sebulan lalu, terakhir kali mereka bertemu. Pertemuan yang Bagas kira bakal jadi yang terakhir, namun hari ini semuanya kembali bergulir.
"Ayo dong, Gas, kasih tahu siapa cewek lo, penasaran nih gue..."
Bagas hanya tersenyum. Nampaknya masih ada rasa lama yang mendorong Rini sengotot itu menginvestigasi Bagas.
"Malah senyum lagi, Gaaass..."
Jari lentik Rini menarik-narik kemeja Bagas. Bagas tetap tersenyum, namun ketika matanya menatap mata Rini, Bagas terdiam, dilihatnya linangan air mata yang tak pernah dia duga.
"Kok lo nangis..."
Rini makin mengisak.
"Gueee...gueee..."
Bagas terdiam menunggu yang akan dikatakan Rini.
"Gue masih sayang sama lo, Gas, gue gak mau kehilangan lo, gue nyesel kenapa kita harus pisah..."
Isak tangis Rini makin memberat.
"Pas tadi lo bilang lo udah punya cewek baru, gue, gue..."
Bagas masih terdiam.
"...gue nyesel Gas, maafin gue, gue dulu udah bikin lo sakit hati sampai tega ninggalin lo..."
"Riiinn..."
"Kalau waktu bisa gue ulang, gue pengen kita bisa sama-sama lagi, Gas..."
"Rin, udah dong jangan nangis gitu..."
"Tapi, kalau emang dia baik buat lo, gue cuma bisa berharap lo bahagia sama dia..."
"Hey, udah dong jangan nangis gitu, boleh gue ngomong?"
Rini mengangguk sembari menarik selembar tissue dari tasnya dan mengusapkan ke mata sipitnya.
"Kata siapa gue punya cewek?"
"Tadi lo bilang lo gak jomblo kan, berarti udah punya cewek kan?"
"Hey, kalo lo mau tau, gue gak pernah ngerasa jomblo sejak terakhir kita ketemu. Walaupun lo bilang putus, gue gak pernah anggap itu serius. Gue selalu ngerasa masih ada lo di hati gue, dan gue yakin sama perasaan itu. Rin, gak pernah ada sekali pun yang bisa gantiin lo di hati gue..."
"...."
"Ayo dong, Gas, kasih tahu siapa cewek lo, penasaran nih gue..."
Bagas hanya tersenyum. Nampaknya masih ada rasa lama yang mendorong Rini sengotot itu menginvestigasi Bagas.
"Malah senyum lagi, Gaaass..."
Jari lentik Rini menarik-narik kemeja Bagas. Bagas tetap tersenyum, namun ketika matanya menatap mata Rini, Bagas terdiam, dilihatnya linangan air mata yang tak pernah dia duga.
"Kok lo nangis..."
Rini makin mengisak.
"Gueee...gueee..."
Bagas terdiam menunggu yang akan dikatakan Rini.
"Gue masih sayang sama lo, Gas, gue gak mau kehilangan lo, gue nyesel kenapa kita harus pisah..."
Isak tangis Rini makin memberat.
"Pas tadi lo bilang lo udah punya cewek baru, gue, gue..."
Bagas masih terdiam.
"...gue nyesel Gas, maafin gue, gue dulu udah bikin lo sakit hati sampai tega ninggalin lo..."
"Riiinn..."
"Kalau waktu bisa gue ulang, gue pengen kita bisa sama-sama lagi, Gas..."
"Rin, udah dong jangan nangis gitu..."
"Tapi, kalau emang dia baik buat lo, gue cuma bisa berharap lo bahagia sama dia..."
"Hey, udah dong jangan nangis gitu, boleh gue ngomong?"
Rini mengangguk sembari menarik selembar tissue dari tasnya dan mengusapkan ke mata sipitnya.
"Kata siapa gue punya cewek?"
"Tadi lo bilang lo gak jomblo kan, berarti udah punya cewek kan?"
"Hey, kalo lo mau tau, gue gak pernah ngerasa jomblo sejak terakhir kita ketemu. Walaupun lo bilang putus, gue gak pernah anggap itu serius. Gue selalu ngerasa masih ada lo di hati gue, dan gue yakin sama perasaan itu. Rin, gak pernah ada sekali pun yang bisa gantiin lo di hati gue..."
"...."
Langganan:
Postingan (Atom)



