Siang itu, di lounge depan kampus. Tiga serangkai jejaka, duduk tertegun bersama. Nampaknya, kegalauan sedang menghantui mereka. Keheningan seketika buyar ketika Mamat berteriak, kesal.
"Ah, sial, gue galau nih Cup, Kur"
"Ah lo mah emang udah biasa , Mat"
"Galau kenapa lagi, Mat?"
Selasa, 31 Januari 2012
Senin, 30 Januari 2012
Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Mencintai Lili
"Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya."
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di pikiran Mamat. Kasmaran yang sengaja selalu dia pendam selama satu setengah tahun lebih, harus terbongkar hanya karena permainan konyol muter-muter botol yang disebut "truth or dare".
*****
"Kalau Mamat, gue ga percaya apa yang dia omongin barusan...," ucap Lili, dengan senyum yang senantiasa hiasi rona wajahnya.
Seketika itu Mamat terdiam, menahan nafas, tertegun bimbang mendengarnya. Kalimat itu seakan membelalakkan pintu ketenangan sekaligus kegamangan hatinya. Kalimat itu memberikan ketenangan, Mamat bisa dengan mudah merajut kembali pertemanan dengan Lili, setelah hampir hancur karena terbongkarnya fakta bahwa dia mencintai Lili. Namun, kegamangan pun hadir kala perasaan yang setelah terpendam satu setengah tahun lamanya, harus "disirnakan" hanya karena pengakuan terpaksakan yang hanya menimbulkan keraguan dari orang yang ditujukan.
"Sekarang terserah lo Mat, mau maju apa mundur nih?" tanya Engkur, sekilas memberikan kesempatan untuk Mamat.
Sebulan lalu, Engkur memang sangat menyukai Lili. Kekosongan hatinya setelah berpisah dengan pujaan hati, sang kembang desa, nun jauh di Padang sana, membuatnya tergesa untuk mencari pengganti. Bahkan dia sendiri mengaku memiliki "naluri liar" untuk menyukai atau mencari tambatan hati yang baru.
Namun akhirnya, dia melupakan nalurinya itu, kini dia telah kembali ke pangkuan cinta si kembang desa. Cinta Engkur kepada gadis itu seakan tak bisa tergantikan. Walau jarak jauh memisahkan, selama masih bisa skype-an, mereka pasti akan bertahan.
Kini tinggal Mamat yang gamang, beribu wejangan berputar-putar dalam benaknya.
"Lo cowo kan Mat, jangan kaya anak kecil, ga punya pendirian gitu. Kalo udah ngomong mau lupain, ya lupain, konsisten," cakap Yuyun (19) dengan yakinnya.
"Udah, lanjut aja Mat, bisa ko," ucap Sari (19).
Saat ini sangat sulit bagi Mamat memutuskan segalanya. Lili, gadis yang telah melekat terbingkai di dinding hatinya selama setengah tahun, harus dilepas hanya dalam waktu semalam. Ya, harus seperti itu nampaknya.
*****
Pena yang tadinya tergeletak di meja, disambar Mamat. Kegamangan menuntun hatinya mencurahkan semua dalam sebuah puisi. Puisi yang ditulis hanya untuk Lili. Ya, puisi terakhir untuk Lili.
Mencintaimu itu Bahagia, Melepaskanmu itu Derita
Ketika melihatmu, yang ada hanya ketenangan,
hati merasakan sebuah perasaan penuh kebahagiaanm
mencintaimu, nyatanya ku lakukan dengan perlahan,
menghadirkan kesungguhan tanpa ada keraguan.
Ku mencintaimu dengan kerahasiaan,
mengagumi dari sudut hati penuh pengharapan,
tak tahu cara rasa itu diungkapkan, biarkan,
aku hanya ingin mencintaimu dengan ketertutupan.
Kita sama, yang beda hanya cara kita berdoa,
kita sama, bisa rajutkan mimpi dan rasa bersama.
Namun sayang, ketika semuanya indah bagiku,
semua harus berakhir bukan karena salahmu,
semua harus ku kubur dalam semu,
menimbunnya dengan batu.
Melepasmu itu derita,
walau tak akan bisa rela,
keharusan tetap memaksa,
aku harus menerima semuanya.
Mencintaimu itu bahagia,
walau tak tahu apa jawabmu di sana.
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di pikiran Mamat. Kasmaran yang sengaja selalu dia pendam selama satu setengah tahun lebih, harus terbongkar hanya karena permainan konyol muter-muter botol yang disebut "truth or dare".
*****
"Kalau Mamat, gue ga percaya apa yang dia omongin barusan...," ucap Lili, dengan senyum yang senantiasa hiasi rona wajahnya.
Seketika itu Mamat terdiam, menahan nafas, tertegun bimbang mendengarnya. Kalimat itu seakan membelalakkan pintu ketenangan sekaligus kegamangan hatinya. Kalimat itu memberikan ketenangan, Mamat bisa dengan mudah merajut kembali pertemanan dengan Lili, setelah hampir hancur karena terbongkarnya fakta bahwa dia mencintai Lili. Namun, kegamangan pun hadir kala perasaan yang setelah terpendam satu setengah tahun lamanya, harus "disirnakan" hanya karena pengakuan terpaksakan yang hanya menimbulkan keraguan dari orang yang ditujukan.
"Sekarang terserah lo Mat, mau maju apa mundur nih?" tanya Engkur, sekilas memberikan kesempatan untuk Mamat.
Sebulan lalu, Engkur memang sangat menyukai Lili. Kekosongan hatinya setelah berpisah dengan pujaan hati, sang kembang desa, nun jauh di Padang sana, membuatnya tergesa untuk mencari pengganti. Bahkan dia sendiri mengaku memiliki "naluri liar" untuk menyukai atau mencari tambatan hati yang baru.
Namun akhirnya, dia melupakan nalurinya itu, kini dia telah kembali ke pangkuan cinta si kembang desa. Cinta Engkur kepada gadis itu seakan tak bisa tergantikan. Walau jarak jauh memisahkan, selama masih bisa skype-an, mereka pasti akan bertahan.
Kini tinggal Mamat yang gamang, beribu wejangan berputar-putar dalam benaknya.
"Lo cowo kan Mat, jangan kaya anak kecil, ga punya pendirian gitu. Kalo udah ngomong mau lupain, ya lupain, konsisten," cakap Yuyun (19) dengan yakinnya.
"Udah, lanjut aja Mat, bisa ko," ucap Sari (19).
Saat ini sangat sulit bagi Mamat memutuskan segalanya. Lili, gadis yang telah melekat terbingkai di dinding hatinya selama setengah tahun, harus dilepas hanya dalam waktu semalam. Ya, harus seperti itu nampaknya.
*****
Pena yang tadinya tergeletak di meja, disambar Mamat. Kegamangan menuntun hatinya mencurahkan semua dalam sebuah puisi. Puisi yang ditulis hanya untuk Lili. Ya, puisi terakhir untuk Lili.
Mencintaimu itu Bahagia, Melepaskanmu itu Derita
Ketika melihatmu, yang ada hanya ketenangan,
hati merasakan sebuah perasaan penuh kebahagiaanm
mencintaimu, nyatanya ku lakukan dengan perlahan,
menghadirkan kesungguhan tanpa ada keraguan.
Ku mencintaimu dengan kerahasiaan,
mengagumi dari sudut hati penuh pengharapan,
tak tahu cara rasa itu diungkapkan, biarkan,
aku hanya ingin mencintaimu dengan ketertutupan.
Kita sama, yang beda hanya cara kita berdoa,
kita sama, bisa rajutkan mimpi dan rasa bersama.
Namun sayang, ketika semuanya indah bagiku,
semua harus berakhir bukan karena salahmu,
semua harus ku kubur dalam semu,
menimbunnya dengan batu.
Melepasmu itu derita,
walau tak akan bisa rela,
keharusan tetap memaksa,
aku harus menerima semuanya.
Mencintaimu itu bahagia,
walau tak tahu apa jawabmu di sana.
Rabu, 25 Januari 2012
Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Fantasi tentang Engkur
"Mat, Cup, gua bukan homo !!!" teriak Engkur.
"Hahahaha..." pekik tawa membeludak dari mulut Mamat dan Ucup.
Hari itu, seperti biasa, saat mahasiswa lainnya berseliweran di sekitar kampus, dua orang cecunguk ngenes, Mamat dan Ucup, berjalan menuju kelas bersamaan sambil cekikikan menertawakan fantasi mereka berdua. Fantasi kotor yang dengan teganya menjadikan tokoh utamanya adalah teman mereka sendiri, Engkur.
Tak pernah terbersit memang sebelumnya, bahkan direncanakan pun tidak. Fantasi mereka hanya karena lewatnya seorang dosen yang menjadi primadona di kampus dan kawasan tertentu dekat kampus. Lebih tepat dikatakan model iklan susu khusus pria kekar daripada disebut dosen. Badan kekar berkemeja ketat, dengan otot menyembul di mana-mana, berkacamata dengan rambut kelimis ala 80-an. Namanya Pak Jaya.
"Tanyain Pak Jaya aja tuh Cup, si Engkur kemana, pasti dia tahu..." sambil cekikikan.
"Hahaha, geblek lo Mat, iya mungkin lagi di rumah Pak Jaya, belum bangun tuh si Engkur..." tambah Ucup, terbahak. Mereka terus cekikikan sambil berlalu menuju kelas.
Kelas sudah ramai, dosen pun sudah santai di kursinya, siap mengajar. Mamat dan Ucup duduk di kursi paling belakang, sambil menunggu Engkur. Namun, Engkur tak kunjung datang.
"Mana nih Engkur, ga dateng-dateng tuh anak?"
"Coba telepon aja Cup, gua sms kaga dibales..." timpal Mamat.
"Dia masih tidur kali Mat, kecapean abis semalem tempur sama Pak Jaya, hahaha..." sambung Ucup.
"Hahaha, iya masih selimutan, terus...."
Berikut kisah dalam fantasi mereka:
Pak Jaya sebagai suami, Engkur sebagai Istri.
"Mah, bangun mah, udah pagi, Mamah kuliah kan?" cakap Jaya, sambil membenarkan dasinya.
"Heemmm (bergumam sambil menarik selimut putihnya)"
Jaya mendekati tirai, membukanya hingga sinar matahari pagi menyinari muka Engkur yang masih terlihat kelelahan. Dia mendekati tempat tidur, duduk sambil meletakkan tangannya di badan Engkur yang masih berselimut.
"Papah kerja dulu yah, Mamah jangan lupa ke kampus..." bisik Jaya.
Jaya mendekatkan bibirnya ke jidat Engkur, menciumnya mesra penuh kehangatan. Engkur yang masih terlelap hanya menggeliat, namun senyum tersungging di bibir keringnya, seakan merasakan saluran kasih sayang dari bibir Jaya.
"Aku sayang kamu Mah, makasih yah semalam, Papah Pergi dulu..."
Engkur masih menggeliat di kasur, menahan lelah di wajah, namun tersungging senyum lebar dibibirnya.
"Hahahahaha...." Ucup dan Mamat terbahak setelah puas membuat FTV singkat di pikiran mereka.
"Sekarang mungkin si Engkur masih beres-beres rumah Cup..." kata Mamat.
Mereka melanjutkan tawa mereka, seakan puas telah berhasil menganiaya Engkur dalam fantasi mereka.
Tak lama berselang, pintu kelas terbuka, sosok lelaki kurus tinggi menampakan batang hidungnya. Berjalan dengan gaya yang mirip Shaggy temannya Scooby Doo.
"Tuh dateng juga dia..." bisik Ucup.
"Rambutnya masih acak-acakan, semalem abis tuh kayanya..." timpal Mamat. Tawa pun pecah dikeduanya.
Engkur meletakkan tasnya disamping tempat duduk Mamat. Bingung apa yang sedang ditertawakan dua teman begundalnya.
"Kenapa kalian?" tanya Engkur bingung.
"(sambil tertawa) abis beres-beres rumah Kur?" jawab Mamat dengan pertanyaan.
"Maksudnya...?"
"Semalem abis berapa babak...?" tambah Ucup menggoda.
"Hah?" Engkur tambah bingung.
Akhirnya Mamat dan Ucup menceritakan fantasi mereka tentang Pak Jaya dan Engkur.
"Sialaaaan kaliaaaaan...." teriak Engkur dengan muka memerah.
"Hahahaha..." tawa pecah , membuat gaduh seisi kelas.
"Heh kalian yang dibelakang, berisik mulu..!!" dengan mata melotot dan tangan terlipat di pinggangnya, Bu Astuti, sang dosen, memarahi mereka.
Selesai.
Catatan: Jangan pernha meniru fantasi ini, hanya untuk profesional.
Nantikan kisah selanjutnya dari Kisah Tiga Jejaka Tanggung.
"Hahahaha..." pekik tawa membeludak dari mulut Mamat dan Ucup.
*****
Hari itu, seperti biasa, saat mahasiswa lainnya berseliweran di sekitar kampus, dua orang cecunguk ngenes, Mamat dan Ucup, berjalan menuju kelas bersamaan sambil cekikikan menertawakan fantasi mereka berdua. Fantasi kotor yang dengan teganya menjadikan tokoh utamanya adalah teman mereka sendiri, Engkur.
Tak pernah terbersit memang sebelumnya, bahkan direncanakan pun tidak. Fantasi mereka hanya karena lewatnya seorang dosen yang menjadi primadona di kampus dan kawasan tertentu dekat kampus. Lebih tepat dikatakan model iklan susu khusus pria kekar daripada disebut dosen. Badan kekar berkemeja ketat, dengan otot menyembul di mana-mana, berkacamata dengan rambut kelimis ala 80-an. Namanya Pak Jaya.
"Tanyain Pak Jaya aja tuh Cup, si Engkur kemana, pasti dia tahu..." sambil cekikikan.
"Hahaha, geblek lo Mat, iya mungkin lagi di rumah Pak Jaya, belum bangun tuh si Engkur..." tambah Ucup, terbahak. Mereka terus cekikikan sambil berlalu menuju kelas.
Kelas sudah ramai, dosen pun sudah santai di kursinya, siap mengajar. Mamat dan Ucup duduk di kursi paling belakang, sambil menunggu Engkur. Namun, Engkur tak kunjung datang.
"Mana nih Engkur, ga dateng-dateng tuh anak?"
"Coba telepon aja Cup, gua sms kaga dibales..." timpal Mamat.
"Dia masih tidur kali Mat, kecapean abis semalem tempur sama Pak Jaya, hahaha..." sambung Ucup.
"Hahaha, iya masih selimutan, terus...."
Berikut kisah dalam fantasi mereka:
Pak Jaya sebagai suami, Engkur sebagai Istri.
"Mah, bangun mah, udah pagi, Mamah kuliah kan?" cakap Jaya, sambil membenarkan dasinya.
"Heemmm (bergumam sambil menarik selimut putihnya)"
Jaya mendekati tirai, membukanya hingga sinar matahari pagi menyinari muka Engkur yang masih terlihat kelelahan. Dia mendekati tempat tidur, duduk sambil meletakkan tangannya di badan Engkur yang masih berselimut.
"Papah kerja dulu yah, Mamah jangan lupa ke kampus..." bisik Jaya.
Jaya mendekatkan bibirnya ke jidat Engkur, menciumnya mesra penuh kehangatan. Engkur yang masih terlelap hanya menggeliat, namun senyum tersungging di bibir keringnya, seakan merasakan saluran kasih sayang dari bibir Jaya.
"Aku sayang kamu Mah, makasih yah semalam, Papah Pergi dulu..."
Engkur masih menggeliat di kasur, menahan lelah di wajah, namun tersungging senyum lebar dibibirnya.
*****
"Hahahahaha...." Ucup dan Mamat terbahak setelah puas membuat FTV singkat di pikiran mereka.
"Sekarang mungkin si Engkur masih beres-beres rumah Cup..." kata Mamat.
Mereka melanjutkan tawa mereka, seakan puas telah berhasil menganiaya Engkur dalam fantasi mereka.
Tak lama berselang, pintu kelas terbuka, sosok lelaki kurus tinggi menampakan batang hidungnya. Berjalan dengan gaya yang mirip Shaggy temannya Scooby Doo.
"Tuh dateng juga dia..." bisik Ucup.
"Rambutnya masih acak-acakan, semalem abis tuh kayanya..." timpal Mamat. Tawa pun pecah dikeduanya.
Engkur meletakkan tasnya disamping tempat duduk Mamat. Bingung apa yang sedang ditertawakan dua teman begundalnya.
"Kenapa kalian?" tanya Engkur bingung.
"(sambil tertawa) abis beres-beres rumah Kur?" jawab Mamat dengan pertanyaan.
"Maksudnya...?"
"Semalem abis berapa babak...?" tambah Ucup menggoda.
"Hah?" Engkur tambah bingung.
Akhirnya Mamat dan Ucup menceritakan fantasi mereka tentang Pak Jaya dan Engkur.
"Sialaaaan kaliaaaaan...." teriak Engkur dengan muka memerah.
"Hahahaha..." tawa pecah , membuat gaduh seisi kelas.
"Heh kalian yang dibelakang, berisik mulu..!!" dengan mata melotot dan tangan terlipat di pinggangnya, Bu Astuti, sang dosen, memarahi mereka.
Selesai.
Catatan: Jangan pernha meniru fantasi ini, hanya untuk profesional.
Nantikan kisah selanjutnya dari Kisah Tiga Jejaka Tanggung.
Senin, 23 Januari 2012
Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Bagian Kenalan
Cerita ini merupakan benar adanya, hanya dibubuhi sedikit lelucon ala kadarnya. Silahkan dibaca.
Jangkung, kurus, kulit coklat matang. Pria pertama ini bernama Engkur.
Berperawakan sedang, rambut berantakan dengan rokok di tangan. Jejaka tanggung yang kedua ini namanya Ucup.
Agak pendek degan hidung besar dan alis jarang. Pria yang terakhir ini biasa dipanggil Mamat.
Ketiga jejaka tanggung ini boleh dikatakan punya jalan hidup yang amat monoton. Setiap mereka bertemu, yag dibicarakan hanya melulu tentang tiga hal, namun dengan porsi yang berbeda-beda. Lima persen mengenai pelajaran, 5% menyangkut bola, dan 90% tentang wanita.
Mereka dipertemukan dengan cara yang salah dan situasi yang tidak kondusif. Merupakan mahasiswa semester nanggung di sebuah universitas swasta yang tenarnya nanggung pula yang ada di Jakarta. Satu program studi, komunikasi. Pilihan yang dirasa cocok memang dengan kesenangan mereka, kesenangan mengeluarkan ocehan-ocehan yang sulit terhenti jika sudah berkumpul, terhenti pun hanya karena ada wanita cantik lewat atau perut mereka keroncongan.
Lebih mendalam tentang mereka.
Engkur yang ternyata bernama asli Kurniawan. Pria asal minang ini sedikit terguncang jiwanya saat bertemu dengan dua orang begajulan, Ucup dan Mamat. Engkur bisa dibilang yang paling polos dari ketiganya. Datang jauh dari Kota Jam Gadang sana, dengan penuh semangat dan keyakinan untuk menimba ilmu. Namun sayang yang dia temukan dua pemuda serampangan yang mengombang-ambingkan idealismenya. Seberapa keras pun usahanya untuk meluruskan jati dirinya, terbelok juga hanya dengan hasutan-hasutan dua temannya itu. Menjerumuskannya pada kebimbangan.
Ucup merupakan pria tulen asal Tanggerang. Seniman tanggung pecinta blues, dengan idealisme tinggi. Pedoman hidup "hemat pangkal kaya" melekat dalam hatinya. Uang memang bukan segalanya buat dia, tapi dengan uanglah dia bisa pulang-pergi Tanggerang-Jakarta setiap harinya dengan hati tenang. Rokok dan gitar adalah surga baginya. Sedangkan neraka bagi dia, ialah kucing dan anak kecil ceria. Cita-citanya kelak, dia ingin membuat sebuah negara komunis dengan dia pemimpinnya.
Jejaka terakhir bernama Mamat. Datang jauh dari luar kota dengan daya tahan tidak biasa. Mengendarai motor tua dari Bogor hingga Jakarta. Agak gila memang, namun itulah faktanya. Berpendirian labil dan terkenal galau, namun sangat yakin jika sudah mempengaruhi orang. Sepak bola memiliki tempat teratas dalam otaknya. Dia berkilah, "...Selama kedua kakinya masih bisa menendang, selama itu gua ga akan berhenti bermain bola...". Walau skill-nya dibawah rata-rata, namun semangatnya mengalahkan Kapten Tsubasa
Itulah gambaran sedikit tentang ketiga tokoh dalam cerita ini. Tidak penting memang siapa mereka sebenarnya. Ikuti kisah-kisah mereka, hanya jika Anda bosan dengan kehidupan Anda.
Jangkung, kurus, kulit coklat matang. Pria pertama ini bernama Engkur.
Berperawakan sedang, rambut berantakan dengan rokok di tangan. Jejaka tanggung yang kedua ini namanya Ucup.
Agak pendek degan hidung besar dan alis jarang. Pria yang terakhir ini biasa dipanggil Mamat.
Ketiga jejaka tanggung ini boleh dikatakan punya jalan hidup yang amat monoton. Setiap mereka bertemu, yag dibicarakan hanya melulu tentang tiga hal, namun dengan porsi yang berbeda-beda. Lima persen mengenai pelajaran, 5% menyangkut bola, dan 90% tentang wanita.
Mereka dipertemukan dengan cara yang salah dan situasi yang tidak kondusif. Merupakan mahasiswa semester nanggung di sebuah universitas swasta yang tenarnya nanggung pula yang ada di Jakarta. Satu program studi, komunikasi. Pilihan yang dirasa cocok memang dengan kesenangan mereka, kesenangan mengeluarkan ocehan-ocehan yang sulit terhenti jika sudah berkumpul, terhenti pun hanya karena ada wanita cantik lewat atau perut mereka keroncongan.
Lebih mendalam tentang mereka.
Engkur yang ternyata bernama asli Kurniawan. Pria asal minang ini sedikit terguncang jiwanya saat bertemu dengan dua orang begajulan, Ucup dan Mamat. Engkur bisa dibilang yang paling polos dari ketiganya. Datang jauh dari Kota Jam Gadang sana, dengan penuh semangat dan keyakinan untuk menimba ilmu. Namun sayang yang dia temukan dua pemuda serampangan yang mengombang-ambingkan idealismenya. Seberapa keras pun usahanya untuk meluruskan jati dirinya, terbelok juga hanya dengan hasutan-hasutan dua temannya itu. Menjerumuskannya pada kebimbangan.
Ucup merupakan pria tulen asal Tanggerang. Seniman tanggung pecinta blues, dengan idealisme tinggi. Pedoman hidup "hemat pangkal kaya" melekat dalam hatinya. Uang memang bukan segalanya buat dia, tapi dengan uanglah dia bisa pulang-pergi Tanggerang-Jakarta setiap harinya dengan hati tenang. Rokok dan gitar adalah surga baginya. Sedangkan neraka bagi dia, ialah kucing dan anak kecil ceria. Cita-citanya kelak, dia ingin membuat sebuah negara komunis dengan dia pemimpinnya.
Jejaka terakhir bernama Mamat. Datang jauh dari luar kota dengan daya tahan tidak biasa. Mengendarai motor tua dari Bogor hingga Jakarta. Agak gila memang, namun itulah faktanya. Berpendirian labil dan terkenal galau, namun sangat yakin jika sudah mempengaruhi orang. Sepak bola memiliki tempat teratas dalam otaknya. Dia berkilah, "...Selama kedua kakinya masih bisa menendang, selama itu gua ga akan berhenti bermain bola...". Walau skill-nya dibawah rata-rata, namun semangatnya mengalahkan Kapten Tsubasa
Itulah gambaran sedikit tentang ketiga tokoh dalam cerita ini. Tidak penting memang siapa mereka sebenarnya. Ikuti kisah-kisah mereka, hanya jika Anda bosan dengan kehidupan Anda.
"Woy, Anj*ng!" (Satu Cerita tentang Sahabat)
"Gua itu gua. Gua ngejalanin hidup seterah gua. Nyang gua anggep bener, ya entu emang bener. Ga usah banyak bacot kalo ga suka. Idup gua ya urusan gua. Ngarti?".
Mungkin kalimat itu nyang selalu gua jadiin pegangan buat gua ngejalanin apapun. Setiap hari gua, gua jalani dengan prinsip "slow but sure" (ngapa jadi kaya Slank yak? Bodo ah sob hahaha...)
Okelah sob, sebelum lanjut, gua kenalin dulu nih siapa gua. Gua cewek sembilan belas tahun nyang bisa dibilang masih nyari jati diri. Gua emang sering banget disebut sengah cewek sengah cowok. Kadang bangs*tnya, ada nyang bilang gue itu 100% cowok. Emang t*i tuh nyang bilang gitu.
Tapi semenjak 9 bulan lalu, gua merasa gua udah jadi cewek seutuhnya.
Senior gua di kampus, nyang tadinya cuma sebates temen doang, kenal lewat barengan di satu kepanitian, eh ga nyangka taunya bisa saling demenan sekarang. (hahaha) Jodoh emang ga kemana sob.
Gua punya banyak sahabat di kampus. Biar kadang ngeselin parah, tapi mereka susah dah buat keganti. Ngeselinnya entu tuh tapi nyang bikin empet. Masa ya sob, gua dibilang mandor kenek kopaja. Yakali dah, gua aja sekarang udah jarang naek kopaja, malah dibilang mandor. T*i kan omongan nyang begono. Tapi okelah sob, gua anggep itu becandaan aja, biar jadi seru gitu. Iye gak sob? Hahahaha...
Gua mah asal temen-temen gua seneng, gua ikut seneng sob, ga peduli mau ngatain gua apa kek. Kek (baca: kayak) reman lah, kek apa lah, ya paling gua tanggepin dengan cuma bilang "Woy, anj*ng" sambil ngakak.
Temen-temen gua entu berarti banget dah buat gua sob. Bahkan ada nyang udah jadi soulmate gua sob. Gua manggil dia "pom", dia manggil gua "pong", jadi kita tuh kaya kepompong gitu dah. Lucu yak? (Hahaha)
Ya gitu lah sob intinya, gua cuman mau ngomong "ga usah nyari temen nyang ga bisa ngertiin lo pada, mending cari nyang ngerti lo apa adanya...".
Buat nyang masih nganggep gua sama cowok gua itu ketuker kepribadian atau kelamin, gua cuma mau bilang "Woy, anj*ng..!!". Hahaha, becanda sob.
Mungkin kalimat itu nyang selalu gua jadiin pegangan buat gua ngejalanin apapun. Setiap hari gua, gua jalani dengan prinsip "slow but sure" (ngapa jadi kaya Slank yak? Bodo ah sob hahaha...)
Okelah sob, sebelum lanjut, gua kenalin dulu nih siapa gua. Gua cewek sembilan belas tahun nyang bisa dibilang masih nyari jati diri. Gua emang sering banget disebut sengah cewek sengah cowok. Kadang bangs*tnya, ada nyang bilang gue itu 100% cowok. Emang t*i tuh nyang bilang gitu.
Tapi semenjak 9 bulan lalu, gua merasa gua udah jadi cewek seutuhnya.
GUA PUNYA PACAR DONG SOB!
Senior gua di kampus, nyang tadinya cuma sebates temen doang, kenal lewat barengan di satu kepanitian, eh ga nyangka taunya bisa saling demenan sekarang. (hahaha) Jodoh emang ga kemana sob.
Gua punya banyak sahabat di kampus. Biar kadang ngeselin parah, tapi mereka susah dah buat keganti. Ngeselinnya entu tuh tapi nyang bikin empet. Masa ya sob, gua dibilang mandor kenek kopaja. Yakali dah, gua aja sekarang udah jarang naek kopaja, malah dibilang mandor. T*i kan omongan nyang begono. Tapi okelah sob, gua anggep itu becandaan aja, biar jadi seru gitu. Iye gak sob? Hahahaha...
Gua mah asal temen-temen gua seneng, gua ikut seneng sob, ga peduli mau ngatain gua apa kek. Kek (baca: kayak) reman lah, kek apa lah, ya paling gua tanggepin dengan cuma bilang "Woy, anj*ng" sambil ngakak.
Temen-temen gua entu berarti banget dah buat gua sob. Bahkan ada nyang udah jadi soulmate gua sob. Gua manggil dia "pom", dia manggil gua "pong", jadi kita tuh kaya kepompong gitu dah. Lucu yak? (Hahaha)
Ya gitu lah sob intinya, gua cuman mau ngomong "ga usah nyari temen nyang ga bisa ngertiin lo pada, mending cari nyang ngerti lo apa adanya...".
Buat nyang masih nganggep gua sama cowok gua itu ketuker kepribadian atau kelamin, gua cuma mau bilang "Woy, anj*ng..!!". Hahaha, becanda sob.
Brongs Eka
Jumat, 20 Januari 2012
Si Pak Tua Penjual Nasi
Umur ini sudah terbilang di ambang senja. Saya tidak lagi sekuat saat muda, tak seriang jenaka balita. Sebatang kara mencari rupiah 'tuk hidupi perut ini, menjajakan penganan yang sudah Saya lakukan jauh waktu dari kini. Menjual nasi beserta lauk berteman kuah sayuran, dari itulah lembaran rupiah saya kumpulkan. Setiap hari, hanya itu yang Saya lakukan, dari terbit surya sampai malam tiba, melayani pelanggan, mengamati orang yang lalu-lalang. Itulah hidup Saya, terkesan monoton memang.
Tapi, biar begitu, kadang ada satu-dua waktu yang menghadirkan kisah berbeda, mewarnai hari Saya. Kadang begitu berwarna, walau tak jarang pula hanya kelabu atau hitam.
Satu cerita, tentang segerombolan mudi-muda yang sering tertangkap mata tertawa riang di hadapan Saya. Mereka bercanda, tertawa begitu lepasnya, seakan hidup penuh bahagia. Mereka berbisik, bergumam, teriak, terbahak. Tak peduli sekitar, tak peduli jika mata ini sering memerhatikan.
Saya melihat kebahagian di setiap canda mereka. Lepas tawa yang sangat Saya suka. Saya merindukan masa-masa seperti mereka. Tak perlu risau memikirkan urusan perut, tinggal memilih mau mengisi dengan apa dan di mana. Soal rupiah, ada orang tua yang membuatnya mudah tersedia.
Satu orang dari mereka adalah pelanggan Saya. Pria jangkung kurus, agak hitam, yang kadang memesan nasi dengan porsi lebih dari biasa, atau memesan soto dengan segala lauknya. Kehadiran mereka tak hanya menyediakan canda dan tawa, namun rupiah yang mengisi kantong Saya dan teman pedagang makanan lainnya.
Sayangnya, kian hari, canda mereka kian jarang Saya lihat lagi. Jangankan canda tawanya, sekelebat satu orang dari mereka tak sesering lalu-lalang di hadapan mata ini, layaknya hari-hari lalu. Mereka hilang, bersamaan dengan hilangnya pula satu pelanggan yang setadinya sudah hampir setia memesan makanan di tempat Saya. Jelas tidak mungkin saya tahu kenapa mereka hilang, diurusi pun memang tak akan ada untungnya buat Saya.
Namun yang Saya pikirkan, akankah lagi ada tawa terbahak yang hadir untuk menggantikan mereka yang mulai hilang. Hilangnya mereka, hilangnya pula satu pelanggan saya, Si pria jangkung kurus agak hitam. Memang. soal pelanggan yang hadirkan rupiah mungkin bisa terganti, namun, tawa riang yang selalu membahana itu, siapa yang mau mengganti?
Menjajakan makanan seorang diri, membuat Saya memiliki sahabat hati, bernama sepi. Tawa canda muda-mudi, yang semula mampu menjadi selingkuhan saya dari si sepi, ternyata hanya hadir sesaat layaknya cinta pelacur atau jasa mucikari. Kini Saya harus membujuk sepi untuk kembali, walau masih berharap selingkuhan itu akan hadir lagi, mengisi hati dengan tawa dan bahaknya yang memberi warna-warni.
Tapi, biar begitu, kadang ada satu-dua waktu yang menghadirkan kisah berbeda, mewarnai hari Saya. Kadang begitu berwarna, walau tak jarang pula hanya kelabu atau hitam.
Satu cerita, tentang segerombolan mudi-muda yang sering tertangkap mata tertawa riang di hadapan Saya. Mereka bercanda, tertawa begitu lepasnya, seakan hidup penuh bahagia. Mereka berbisik, bergumam, teriak, terbahak. Tak peduli sekitar, tak peduli jika mata ini sering memerhatikan.
Saya melihat kebahagian di setiap canda mereka. Lepas tawa yang sangat Saya suka. Saya merindukan masa-masa seperti mereka. Tak perlu risau memikirkan urusan perut, tinggal memilih mau mengisi dengan apa dan di mana. Soal rupiah, ada orang tua yang membuatnya mudah tersedia.
Satu orang dari mereka adalah pelanggan Saya. Pria jangkung kurus, agak hitam, yang kadang memesan nasi dengan porsi lebih dari biasa, atau memesan soto dengan segala lauknya. Kehadiran mereka tak hanya menyediakan canda dan tawa, namun rupiah yang mengisi kantong Saya dan teman pedagang makanan lainnya.
Sayangnya, kian hari, canda mereka kian jarang Saya lihat lagi. Jangankan canda tawanya, sekelebat satu orang dari mereka tak sesering lalu-lalang di hadapan mata ini, layaknya hari-hari lalu. Mereka hilang, bersamaan dengan hilangnya pula satu pelanggan yang setadinya sudah hampir setia memesan makanan di tempat Saya. Jelas tidak mungkin saya tahu kenapa mereka hilang, diurusi pun memang tak akan ada untungnya buat Saya.
Namun yang Saya pikirkan, akankah lagi ada tawa terbahak yang hadir untuk menggantikan mereka yang mulai hilang. Hilangnya mereka, hilangnya pula satu pelanggan saya, Si pria jangkung kurus agak hitam. Memang. soal pelanggan yang hadirkan rupiah mungkin bisa terganti, namun, tawa riang yang selalu membahana itu, siapa yang mau mengganti?
Menjajakan makanan seorang diri, membuat Saya memiliki sahabat hati, bernama sepi. Tawa canda muda-mudi, yang semula mampu menjadi selingkuhan saya dari si sepi, ternyata hanya hadir sesaat layaknya cinta pelacur atau jasa mucikari. Kini Saya harus membujuk sepi untuk kembali, walau masih berharap selingkuhan itu akan hadir lagi, mengisi hati dengan tawa dan bahaknya yang memberi warna-warni.
Hormat penulis, untuk Pak Tua Penjual Nasi.
Kamis, 19 Januari 2012
"Aku itu Orang Baik"
Aku terlahir biasa. Tumbuh layaknya insan yang berusaha tak lupa 'tuk syukuri hidup yang diberi Sang Maha. Kecilku tak jauh beda dengan kalian. Bermain, tertawa, berceloteh, penuh canda riang. Walau sedikit ada beda, itu bukan bencana. Di mata-Nya, Aku yakin kita sama.
Ada satu cerita, tentang masa kecilku yang terisi peristiwa yang selalu jadi mimpi buruk buat diri. Tragedi yang katanya merubah negara ini dengan sekilat. Tragedi biadab. Ya, BIADAB.
Kala saudari-saudariku direnggut kegadisannya dengan paksa, dengan dera. Tragedi Mei '98. Karena tragedi itu, masa kecilku yang harusnya indah, sempat kelam.
Hari saat kerusuhan itu terjadi, Ibuku harus susah payah menyelematkanku lari dari rumah. Ibu menggendongku, lari ke tempat yang aman demi keselematan kami, lari dari kerusuhan yang sudah bercampur nafsu binatang di setiap otak para bejat itu.
Hari itu, nyatanya memang tak akan terlupa. Namun, dalam hati ini kadang ada yang berbisik "...just wanted to forget those burden for a while and take a break...".
Ada satu yang menjadi obat hati yang berbunyi: "When you remember your own history, you can appreciate your life more than before...", ya kalimat itu sering terngiang di telinga ini.
Kini, hampir 14 tahun berlalu.
Aku bersyukur itu semua telah lewat berlalu dan kini aku telah menjadi pribadi yang lebih baik, pikirku. Pribadi yang lebih menghargai hidup tanpa harus memusingkan yang namanya dendam. Aku selalu berusaha bijak dalam menyikapi masalah. Aku hanya ingin orang lain nyaman berkawan denganku, dekat denganku, karena keikhlasan, tanpa paksaan, maupun mencari keuntungan.
Aku memiliki banyak teman dan sahabat yang selalu ada mengisi hariku yang kadang getir. Merekalah yang selalu hadirkan tawa buatku, memberikan celotehannya demi membuat hari jadi lebih berwarna.
Aku bersyukur pada Tuhan, yang selalu memberi jalan kebagahagiaan, yang tak pernah ku sangka hadirnya.
Aku belajar banyak dari mereka, membuatku menghargai tentang indahnya perbedaan dengan kebijakan, memaknai berwarnanya hari penuh tawa dan canda, serta mensyukuri segala celoteh yang selalu hadirkan jenaka. Semuanya, Aku suka.
Aku selalu berusaha untuk bijak. Pada teman, pada sahabat, dan pada semua yang ada di sekitarku. Aku ingin mereka selalu tersenyum bila bersamaku. Aku ingin menjadi orang baik, ya orang yang baik pada semuanya, terkhusus orang-orang yang ku sayangi.
Satu waktu, ada yang memberikan celetuknya "Jadi orang itu jangan terlalu baik, nanti disalah-artikan orang lain..." katanya.
Sempat terngiang dengan yang dikatakannya. Sempat pula berpikir bahwa itu benar. Bahkan aku berniat untuk mengubah pandanganku, mencoba mengerti apa yang orang itu maksud. Ketakutan pun sempat menghampiri, aku takut kebaikan ini disalah-artikan. Mungkin parahnya, dimanfaatkan.
Namun, nyatanya, Aku tak bisa. Aku tetapalah Aku.
Buatku, menjadi orang baik dan menghadirkan kebaikan sudah melekat di benakku. Karena Aku percaya, "Positive or negative, it's up to you which one you want to believe..".
Inspired by: My Friends, girl, 19 years old.
Ada satu cerita, tentang masa kecilku yang terisi peristiwa yang selalu jadi mimpi buruk buat diri. Tragedi yang katanya merubah negara ini dengan sekilat. Tragedi biadab. Ya, BIADAB.
Kala saudari-saudariku direnggut kegadisannya dengan paksa, dengan dera. Tragedi Mei '98. Karena tragedi itu, masa kecilku yang harusnya indah, sempat kelam.
Hari saat kerusuhan itu terjadi, Ibuku harus susah payah menyelematkanku lari dari rumah. Ibu menggendongku, lari ke tempat yang aman demi keselematan kami, lari dari kerusuhan yang sudah bercampur nafsu binatang di setiap otak para bejat itu.
Hari itu, nyatanya memang tak akan terlupa. Namun, dalam hati ini kadang ada yang berbisik "...just wanted to forget those burden for a while and take a break...".
Ada satu yang menjadi obat hati yang berbunyi: "When you remember your own history, you can appreciate your life more than before...", ya kalimat itu sering terngiang di telinga ini.
Kini, hampir 14 tahun berlalu.
Aku bersyukur itu semua telah lewat berlalu dan kini aku telah menjadi pribadi yang lebih baik, pikirku. Pribadi yang lebih menghargai hidup tanpa harus memusingkan yang namanya dendam. Aku selalu berusaha bijak dalam menyikapi masalah. Aku hanya ingin orang lain nyaman berkawan denganku, dekat denganku, karena keikhlasan, tanpa paksaan, maupun mencari keuntungan.
Aku memiliki banyak teman dan sahabat yang selalu ada mengisi hariku yang kadang getir. Merekalah yang selalu hadirkan tawa buatku, memberikan celotehannya demi membuat hari jadi lebih berwarna.
Aku bersyukur pada Tuhan, yang selalu memberi jalan kebagahagiaan, yang tak pernah ku sangka hadirnya.
Aku belajar banyak dari mereka, membuatku menghargai tentang indahnya perbedaan dengan kebijakan, memaknai berwarnanya hari penuh tawa dan canda, serta mensyukuri segala celoteh yang selalu hadirkan jenaka. Semuanya, Aku suka.
Aku selalu berusaha untuk bijak. Pada teman, pada sahabat, dan pada semua yang ada di sekitarku. Aku ingin mereka selalu tersenyum bila bersamaku. Aku ingin menjadi orang baik, ya orang yang baik pada semuanya, terkhusus orang-orang yang ku sayangi.
Satu waktu, ada yang memberikan celetuknya "Jadi orang itu jangan terlalu baik, nanti disalah-artikan orang lain..." katanya.
Sempat terngiang dengan yang dikatakannya. Sempat pula berpikir bahwa itu benar. Bahkan aku berniat untuk mengubah pandanganku, mencoba mengerti apa yang orang itu maksud. Ketakutan pun sempat menghampiri, aku takut kebaikan ini disalah-artikan. Mungkin parahnya, dimanfaatkan.
Namun, nyatanya, Aku tak bisa. Aku tetapalah Aku.
Buatku, menjadi orang baik dan menghadirkan kebaikan sudah melekat di benakku. Karena Aku percaya, "Positive or negative, it's up to you which one you want to believe..".
Terima kasih Tuhan, aku mendapat hidup seindah ini. Biar sempat kelam, aku tahu itu jalan-Mu menjadikan aku lebih baik lagi.
Terima kasih Ibu, Ayah, dan keluargaku, aku ada karea, dan untuk kalian.
Terima kasih sahabat, kamu membuatku jadi mengerti akan arti canda dan tawa.
Aku akan tetap menjadi aku, whatever happens yesteray and tomorrow, we still have today, buatku menjadi baik bukanlah tuntutan, namun kesenangan. Aku itu orang baik. :)
Catatan untuk sahabatku: "When what you think, what you say, and what you do is in harmony, that is happiness"
Inspired by: My Friends, girl, 19 years old.
Langganan:
Postingan (Atom)