Senin, 30 Januari 2012

Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Mencintai Lili

"Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya." 


Kalimat itu masih terngiang-ngiang di pikiran Mamat. Kasmaran yang sengaja selalu dia pendam selama satu setengah tahun lebih, harus terbongkar hanya karena permainan konyol muter-muter botol yang disebut "truth or dare".
*****

"Kalau Mamat, gue ga percaya apa yang dia omongin barusan...," ucap Lili, dengan senyum yang senantiasa hiasi rona wajahnya.

Seketika itu Mamat terdiam, menahan nafas, tertegun bimbang mendengarnya. Kalimat itu seakan membelalakkan pintu ketenangan sekaligus kegamangan hatinya. Kalimat itu memberikan ketenangan, Mamat bisa dengan mudah merajut kembali pertemanan dengan Lili, setelah hampir hancur karena terbongkarnya fakta bahwa dia mencintai Lili. Namun, kegamangan pun hadir kala perasaan yang setelah terpendam satu setengah tahun lamanya, harus "disirnakan" hanya karena pengakuan terpaksakan yang hanya menimbulkan keraguan dari orang yang ditujukan.

"Sekarang terserah lo Mat, mau maju apa mundur nih?" tanya Engkur, sekilas memberikan kesempatan untuk Mamat.

Sebulan lalu, Engkur memang sangat menyukai Lili. Kekosongan hatinya setelah berpisah dengan pujaan hati, sang kembang desa, nun jauh di Padang sana, membuatnya tergesa untuk mencari pengganti. Bahkan dia sendiri mengaku memiliki "naluri liar" untuk menyukai atau mencari tambatan hati yang baru.

Namun akhirnya, dia melupakan nalurinya itu, kini dia telah kembali ke pangkuan cinta si kembang desa. Cinta Engkur kepada gadis itu seakan tak bisa tergantikan. Walau jarak jauh memisahkan, selama masih bisa skype-an, mereka pasti akan bertahan.

Kini tinggal Mamat yang gamang, beribu wejangan berputar-putar dalam benaknya.

"Lo cowo kan Mat, jangan kaya anak kecil, ga punya pendirian gitu. Kalo udah ngomong mau lupain, ya lupain, konsisten," cakap Yuyun (19) dengan yakinnya.

"Udah, lanjut aja Mat, bisa ko," ucap Sari (19).

Saat ini sangat sulit bagi Mamat memutuskan segalanya. Lili, gadis yang telah melekat terbingkai di dinding hatinya selama setengah tahun, harus dilepas hanya dalam waktu semalam. Ya, harus seperti itu nampaknya.

*****

Pena yang tadinya tergeletak di meja, disambar Mamat. Kegamangan menuntun hatinya mencurahkan semua dalam sebuah puisi. Puisi yang ditulis hanya untuk Lili. Ya, puisi terakhir untuk Lili.


Mencintaimu itu Bahagia, Melepaskanmu itu Derita

Ketika melihatmu, yang ada hanya ketenangan,
hati merasakan sebuah perasaan penuh kebahagiaanm
mencintaimu, nyatanya ku lakukan dengan perlahan,
menghadirkan kesungguhan tanpa ada keraguan.

Ku mencintaimu dengan kerahasiaan,
mengagumi dari sudut hati penuh pengharapan,
tak tahu cara rasa itu diungkapkan, biarkan, 
aku hanya ingin mencintaimu dengan ketertutupan.

Kita sama, yang beda hanya cara kita berdoa,
kita sama, bisa rajutkan mimpi dan rasa bersama.

Namun sayang, ketika semuanya indah bagiku,
semua harus berakhir bukan karena salahmu,
semua harus ku kubur dalam semu,
menimbunnya dengan batu.

Melepasmu itu derita,
walau tak akan bisa rela,
keharusan tetap memaksa,
aku harus menerima semuanya.

Mencintaimu itu bahagia,
walau tak tahu apa jawabmu di sana.

Tidak ada komentar: