Selasa, 31 Januari 2012

Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Gamang = Galau

Siang itu, di lounge depan kampus. Tiga serangkai jejaka, duduk tertegun bersama. Nampaknya, kegalauan sedang menghantui mereka. Keheningan seketika buyar ketika Mamat berteriak, kesal.

"Ah, sial, gue galau nih Cup, Kur"

"Ah lo mah emang udah biasa , Mat"

"Galau kenapa lagi, Mat?"

Terburailah cerita Mamat seketika itu pula. Satu  demi satu dia rincikan kegalauannya. Tak lain dan tak bukan hanya karena masalah wanita. Entah karena penolakan, kekecawaan, atau pengkhianatan. Semua berisi kronologis kronis tentang kisah cintanya yang tragis. Kisah yang sudah menjai rahasia dan konsumsi umum. Sampai-sampai, sebutan "Si Galau" sudah menjadi nama kedua baginya. Biar begitu, dia tak pernah berhenti mengumbar kegalauannya.

Lain halnya dengan Ucup. Pria satu ini dikenal jarang terbuka dengan kisah asmara yang membuat gamang harinya. Hanya beberapa kisah yang dia beberkan pada khalayak. Satu cerita akhirnya terbongkar kala itu.

"Malem Minggu kemaren, gue kan abis pulang maen dari rumah temen gue bawaa motor tuh, lewatin rumah si Puput, terus...," urai Ucup menggebu.

Alkisah, Puput adalah mantan terakhir Ucup yang sudah hampir setahun lalu putus. Malam itu  Ucup tidaklah dalam keadaan mabuk, karena dia jelas bukan peminum ataupun pemakai narkoba. Namun, nostalgia yang sekelebat melintas di otaknya, membuat dia mabuk, hingga secara tak sadar nyelonong masuk halaman rumah Puput dan memakirkan motornya. Tanpa undangan, tan pemberitahuan, Ucup berteriak memanggil Puput.

"Puut, Pupuuut..."

"(krieeeek)..." suara pintu terbuka, sosok tak asing bagi Ucup, Puput, menampakkan batang hidungnya.

"Lah..?" Puput tertegun, bingung, melihat sosok Ucup.

Setelah basa-basi dikeluarkan oleh Ucup, akhirnya dia berhasil menarik Puput dalam obrolan yang panjang malam itu. Seketika, dua sejoli itu terbuai dalam dingin malam. Bernostalgia akan kisah lalu yang sempat manis buat mereka.

"Udah ngobrol lama, gue akhirnya pamit pulang..."

Dalam perjalanan pulang, tergurat senyum di wajah Ucup. Pertemuan itu menimbulkan kembali rasa yang sudah lama dia peti matikan. Nampaknya, Ucup ingin mencoba memgembalikan kisah lamnya dengan Puput. Strategi klasik pun dia mulai.

"...nyampe rumah gue sms dia, terus dibales tuh, sms-an kan,  tapi akhirnya dia ga bales lagi..."

Ucup berhipotesis, mungkin Puput ketiduran, karena maklum, saat itu sudah hampir subuh menjelang. Pagi harinya, tetap tak ada balasan, siang pun demikian. Ucup tak mau menyerah sampai di situ. Dia mengirimkan sms lagi ke Puput. Hasilnya..., nihil. Tetap tak ada jawaban. Seketika semangat yang semula telah membara, padam begitu saja.

Ironis memang. Momen penghadir semangat yang dibuat tanpa waras, berakhir putus asa yang hadir karena sms tek berbalas.

Giliran Engkur bersenandung tentang kegamangannya. Kisahnya berkutat tentang tambatan hati di kampung halamannya.

Ya, cinta Engkur selalu berhubungan dengan kampung halamannya. Semua tentang Padang, adalah cintanya. Pacar yang asli Padang, masakan Padang, hingga penjual nasi Padang (yang terakhir abaikan!).

Bicara tentang pacar Engkur. Namanya Leni, gadis jilbaban yang telah lama setia menemaninya.

"Gue putus sama Leni beberapa hari yang lalu, Mat, Cup...,"

"Hah? Kenapa?"

"Tapi udah balikan lagi...,"

"Maksudnya?"

"Semalem gue Skype-an, dan masalah selesai, hehehe..."

Mulanya, Engkur dan Leni benar adanya sempat putus. Masalah dimulai karena kesalah-pahaman dan akhirnya mereka bertengkar hebat, lewat sms, telepon, hingga media sosial. Kata putus pun terlontar. Emosi sesaat membutakan mereka punya akal sehat.

Beberapa hari berpisah, emosi itu teredam juga. Penyesalan datang menghampiri keduanya. Satu malam, mereka berinisiatif untuk bertatap muka lewat Skype, demi menyelesaika masalahnya.

"Semuanya udah balik lagi, uudah diperbaiki msalahnya, ternyata cuma butuh ngobrol langsung face-to-face lewat Skype..." ujar Engkur.

Ucup dan Mamat hanya bisa menghela nafas dibarengi ekspresi datar keduanya.

"Lo emang ngapain aja skype-annya, Kur?" tanya Mamat.

"Kepooo, rahasia lah, hahaha..." ujar Engkur.

"Jangan-jangan...." Ucup dan Mamat bergumam berbarengan sambil bertatap muka.

Gelak tawa pecah seketika antara Ucup dan Mamat. Mereka mulai berfantasi yang tidak-tidak tentang Engkur. Tinggal Engkur sendiri terbata, timbul tanya, setengah menduga setengah bingung jua, melihat ulah kedua teman begundalnya tertawa lepas adanya. Setelah berhasil menebak, Engkur hanya bisa menyangkal dengan tawa pula.

Siang yang gamang buat mereka. Biar gaman mendera mereka, tawa tetap saja tak hilang dari ketiganya.

Dari penulis:
"Galau bukanlah sebuah dosa, bukan pula penghasil pahala. Beberapa hal yang bisa dijadikan rekomendasi dari cerita ini; jangan terlalu sering galau, jangan nyelonong ke rumah mantan tanpa pemberitahuan atau maksud yang jelas, Skype bagus untuk pasangan LDR, terima kasih."

2 komentar:

inekewildana mengatakan...

hahahaha jaman banget ya dis sekarang, galau fever! :D
suka itu sama quotes terakhir: Galau bukanlah sebuah dosa, bukan pula penghasil pahala dan Skype bagus untuk pasangan LDR hahahaha, keep posting! :)

Yudistira Achmad Nugroho mengatakan...

hahaha ini cerita request-an temen neu, oke siap :)