Senin, 23 Januari 2012

Kisah Tiga Jejaka Tanggung: Bagian Kenalan

Cerita ini merupakan benar adanya, hanya dibubuhi sedikit lelucon ala kadarnya. Silahkan dibaca.

Jangkung, kurus, kulit coklat matang. Pria pertama ini bernama Engkur.

Berperawakan sedang, rambut berantakan dengan rokok di tangan. Jejaka tanggung yang kedua ini namanya Ucup.

Agak pendek degan hidung besar dan alis jarang. Pria yang terakhir ini biasa dipanggil Mamat.

Ketiga jejaka tanggung ini boleh dikatakan punya jalan hidup yang amat monoton. Setiap mereka bertemu, yag dibicarakan hanya melulu tentang tiga hal, namun dengan porsi yang berbeda-beda. Lima persen mengenai pelajaran, 5% menyangkut bola, dan 90% tentang wanita.

Mereka dipertemukan dengan cara yang salah dan situasi yang tidak kondusif. Merupakan mahasiswa semester nanggung di sebuah universitas swasta yang tenarnya nanggung pula yang ada di Jakarta. Satu program studi, komunikasi. Pilihan yang dirasa cocok memang dengan kesenangan mereka, kesenangan mengeluarkan ocehan-ocehan yang sulit terhenti jika sudah berkumpul, terhenti pun hanya karena ada wanita cantik lewat atau perut mereka keroncongan.

Lebih mendalam tentang mereka.

Engkur yang ternyata bernama asli Kurniawan. Pria asal minang ini sedikit terguncang jiwanya saat bertemu dengan dua orang begajulan, Ucup dan Mamat. Engkur bisa dibilang yang paling polos dari ketiganya. Datang jauh dari Kota Jam Gadang sana, dengan penuh semangat dan keyakinan untuk menimba ilmu. Namun sayang yang dia temukan dua pemuda serampangan yang mengombang-ambingkan idealismenya. Seberapa keras pun usahanya untuk meluruskan jati dirinya, terbelok juga hanya dengan hasutan-hasutan dua temannya itu. Menjerumuskannya pada kebimbangan.

Ucup merupakan pria tulen asal Tanggerang. Seniman tanggung pecinta blues, dengan idealisme tinggi. Pedoman hidup "hemat pangkal kaya" melekat dalam hatinya. Uang memang bukan segalanya buat dia, tapi dengan uanglah dia bisa pulang-pergi Tanggerang-Jakarta setiap harinya dengan hati tenang. Rokok dan gitar adalah surga baginya. Sedangkan neraka bagi dia, ialah kucing dan anak kecil ceria. Cita-citanya kelak, dia ingin membuat sebuah negara komunis dengan dia pemimpinnya.

Jejaka terakhir bernama Mamat. Datang jauh dari luar kota dengan daya tahan tidak biasa. Mengendarai motor tua dari Bogor hingga Jakarta. Agak gila memang, namun itulah faktanya. Berpendirian labil dan terkenal galau, namun sangat yakin jika sudah mempengaruhi orang. Sepak bola memiliki tempat teratas dalam otaknya. Dia berkilah, "...Selama kedua kakinya masih bisa menendang, selama itu gua ga akan berhenti bermain bola...". Walau skill-nya dibawah rata-rata, namun semangatnya mengalahkan Kapten Tsubasa

Itulah gambaran sedikit tentang ketiga tokoh dalam cerita ini. Tidak penting memang siapa mereka sebenarnya. Ikuti kisah-kisah mereka, hanya jika Anda bosan dengan kehidupan Anda.


Tidak ada komentar: