Senin, 06 Desember 2010

Arti Nama

Arti nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna "teguh atau kokoh dalam peperangan". Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna "raja Dharma", karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.
Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:
  • Ajataśatru, "yang tidak memiliki musuh".
  • Bhārata, "keturunan Maharaja Bharata".
  • Dharmawangsa atau Dharmaputra, "keturunan Dewa Dharma".
  • Kurumukhya, "pemuka bangsa Kuru".
  • Kurunandana, "kesayangan Dinasti Kuru".
  • Kurupati, "raja Dinasti Kuru".
  • Pandawa, "putera Pandu".
  • Partha, "putera Prita atau Kunti".
Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Selain nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa masih terdapat beberapa nama atau julukan yang lain lagi untuk Yudistira, misalnya:
  • Puntadewa, "derajat keluhurannya setara para dewa".
  • Yudistira, "pandai memerangi nafsu pribadi".
  • Gunatalikrama, "pandai bertutur bahasa".
  • Samiaji, "menghormati orang lain bagai diri sendiri".

Rabu, 27 Oktober 2010

Ketika Dia Ada

Dia yang sendiri,
meratapi perjalanan mimpi,
mendekapi puing-puing sepi,
melamuni khayalan pelapis sunyi.

Meracau tak tahu arti,
ucap ingin pada yang dinanti,
coba tak ingat yang lalu pergi,
harap ada yang 'kan mengganti.

Dia kini,
menanti datangnya pelangi,
dalam mimipi dalam hari,
memayungi teduh hati.

Namun ini telah temu diri,
dengan pribadi yang indah bersemi,
bagai pelita di malam hari,
bagai pagi yang bermentari.

Selasa, 19 Oktober 2010

Panca Syair Untuk Kamu

Hal yang indah untuk kamu yang indah.

Akan mengawang tuju bulan di awan.

Ini sebuah tulisan tentang kamu, yang begitu indah.

Firasat hati ini tak salah.

Adalah memang kamu yang indah.

Mau bagaimana juga aku mengelak.

Angan ini terbayang kamu yang benar indah.

Lengkung senyum kamu yang penuh keteduhan.

Ingin dimiliki namun takkan memang.

Aku berdoa dalam malam ini untuk kamu yang masih terjaga di sana.

Nampak semoga apa yang ada dalam ingin mulia kamu segera.

Buat kamu yang masih mencari sebuah makna dunia.

Aku akan selalu ada di sini dengan penuh tangan meminta pada Yang Esa.

Raga dan jiwa untuk kamu, yang indah, indah

Hai Gadis Yang Duduk di Situ

Hai gadis yang duduk disitu, siapa namamu?
Sebuah tanya itu tak pernah berani ku ucap.
Segan rasanya tuk bertanya, walau hanya sebatas bual sapa.
Ah, sudahlah biar semuanya mengalir seadanya.

Hai gadis yang duduk di situ, bolehkah diri ini tahu?
Tentangmu dan semua laku kamu.

Ah, entah ada apa dengan diri ini,
seakan mau mati bila dia dekati,
tertegun diam mulut terkunci,
tanpa sepatah ucap yang berarti.

Hai gadis yang duduk di situ, bisakah ku kenali jauh tentangmu?
Tapi, bagaimana jika semua terhalang malu?
Atau mungkin ini hanya masalah waktu?
Atau malah nanti hanya tetap termangu?
Memandangmu, mengagumimu.

Jumat, 15 Oktober 2010

Aku Menulis

Aku menulis dalam diam,
menatapi mimpi yang terhembus runyam,
meratapi harap sambil bergumam,
menunggu datangnya panggilan pikir dalam.

Aku menulis dalam hening,
seakan dunia dipenuhi dinding,
berair tak tersuling,
berkuku tak bertaring.

Namun,
yang ku tulis ini tak seindah tenun,
tak ada baik nan tak bersusun,
tak punya indah jika dibangun.

Hanya bualan kosong,
bagai embikkan kambing ompong,
terdengar bak lolong anjing yang merongrong,
di siang bolong.