Minggu, 12 April 2015

Sesederhana Itu Saja

"Kenapa kalau ada nyamuk orang-orang kebanyakan malah tepuk tangan?"

"Biar kalau kena tangan nyamuknya mati..."

"Berarti nyamuknya ga sengaja mati karena orangnya seneng. Terus kenapa orang-orang bela-belain beli obat buat nyamuk, padahal dengan tepuk tangan aja bisa mati?"

"Karena pengen sesuatu yang simple, ga ribet"


Kamu tahu ketika sesuatu yang tidak pernah kita duga muncul begitu saja dipikiran dan langsung menyedak ke kerongkongan untuk tiba-tiba keluar dikatakan, itu namanya spontan.

Sama ketika kamu membuat suatu lukisan tentang seorang yang kamu kagumkan, kamu mencoba membuatnya seindah karya Michelangelo dan sesemiotik karya Ghirlandaio, tapi yang kamu buat malah tidak lebih dari gambar gunung, sawah, dan di tengahnya ada jalan, ya gambar anak-anak yang sudah melegenda, itu mungkin namanya kurang kerjaan.

Kamu tahu, usaha berbanding lurus dengan hasil, tapi kamu harus tahu, rumus matematika seperti itu tak bisa sejalan dengan yang namanya perasaan.

Ketika kamu sadar akan hal itu, kamu juga akan sadar, semua tidak bisa begitu saja disama-ratakan, harus ada yang namanya gelombang naik turun dalam sebuah usaha. Kadang kamu harus total, kadang juga hanya dengan diam.

Satu lagi yang perlu kamu ingat, sederhana itu kadang lebih menghasilkan. Seperti nyamuk tadi yang kamu kira bisa senang karena mati ditepuk tangan, padahal semuanya hanya sesederhana antara usaha dan hasil, manusia yang berusaha, nyamuk yang mendapat hasil. Manusia yang membeli obat, nyamuk yang mati.

Tapi kamu juga harus melihat usaha nyamuk itu terkadang, bagaimana dia bisa mati? Karena dia ingin hidup dari cairan merah yang membuat manusia juga hidup. Tapi sayang, kita hanya melihat sesuatu yang jelas kelihatan, tanpa pernah melihat usaha kecil yang seringnya tidak kentara.

Kamu akan tahu sesegera mungkin, tahu dengan cara yang sederhana dengan paham yang tak rumit.

Berterima kasih lah pada dia yang sudah membuatmu sadar, akan pentingnya kesederhanaan.



Untuk Kamu,
YAN

Selasa, 31 Maret 2015

Salah

Dua tahun itu bukan waktu yang lama untuk kembali membuka sesuatu yang banyak mengundang nyinyir juga tawa. Aku masih ingat, satu kalimat rasa terakhir yang kau ucap, itu entah sebuah tanda titik atau koma yang menyudahinya. Tapi, Aku yakin, kita sama-sama sepakat kalau tanda itu adalah koma. Buktinya, ada sebuah sambungan kalimat untuk melanjutkan kisah dalam bentuk tatap harap yang terukir samar di matamu itu, minggu lalu.

Ketika untuk pertama kalinya setelah dua tahun yang sepi itu, kamu kembali lagi menanyakan apa kabar Ku. Haruskah Aku ragu kalau itu hanya basa-basi agar tidak bisu?

Hahaha...sepertinya Aku sudah mulai terlalu jauh berkhayal. Aku lupa, kesalahan yang dulu kita sama-sama buat, tidak mungkin terulang untuk kedua kalinya. Setidaknya bagiku begitu, tidak tahu kalau ada hal lain di pikirmu. Kalau iya, mungkin Kamu bisa sekali lagi menyapaku, besok, di kampus, ketika Aku dengan lancang duduk di depan kursi meja kerjamu. Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan Aku kalau kita benar-benar akan melapas rindu yang kini masih kita batu.

Jakarta, hari Selasa pukul 2.