Jumat, 20 Januari 2012

Si Pak Tua Penjual Nasi

Umur ini sudah terbilang di ambang senja. Saya tidak lagi sekuat saat muda, tak seriang jenaka balita. Sebatang kara mencari rupiah 'tuk hidupi perut ini, menjajakan penganan yang sudah Saya lakukan jauh waktu dari kini. Menjual nasi beserta lauk berteman kuah sayuran, dari itulah lembaran rupiah saya kumpulkan. Setiap hari, hanya itu yang Saya lakukan, dari terbit surya sampai malam tiba, melayani pelanggan, mengamati orang yang lalu-lalang. Itulah hidup Saya, terkesan monoton memang.

Tapi, biar begitu, kadang ada satu-dua waktu yang menghadirkan kisah berbeda, mewarnai hari Saya. Kadang begitu berwarna, walau tak jarang pula hanya kelabu atau hitam.

Satu cerita, tentang segerombolan mudi-muda yang sering tertangkap mata tertawa riang di hadapan Saya. Mereka bercanda, tertawa begitu lepasnya, seakan hidup penuh bahagia. Mereka berbisik, bergumam, teriak, terbahak. Tak peduli sekitar, tak peduli jika mata ini sering memerhatikan.

Saya melihat kebahagian di setiap canda mereka. Lepas tawa yang sangat Saya suka. Saya merindukan masa-masa seperti mereka. Tak perlu risau memikirkan urusan perut, tinggal memilih mau mengisi dengan apa dan di mana. Soal rupiah, ada orang tua yang membuatnya mudah tersedia.

Satu orang dari mereka adalah pelanggan Saya. Pria jangkung kurus, agak hitam, yang kadang memesan nasi dengan porsi lebih dari biasa, atau memesan soto dengan segala lauknya. Kehadiran mereka tak hanya menyediakan canda dan tawa, namun rupiah yang mengisi kantong Saya dan teman pedagang makanan lainnya.

Sayangnya, kian hari, canda mereka kian jarang Saya lihat lagi. Jangankan canda tawanya, sekelebat satu orang dari mereka tak sesering lalu-lalang di hadapan mata ini, layaknya hari-hari lalu. Mereka hilang, bersamaan dengan hilangnya pula satu pelanggan yang setadinya sudah hampir setia memesan makanan di tempat Saya. Jelas tidak mungkin saya tahu kenapa mereka hilang, diurusi pun memang tak akan ada untungnya buat Saya.

Namun yang Saya pikirkan, akankah lagi ada tawa terbahak yang hadir untuk menggantikan mereka yang mulai hilang. Hilangnya mereka, hilangnya pula satu pelanggan saya, Si pria jangkung kurus agak hitam. Memang. soal pelanggan yang hadirkan rupiah mungkin bisa terganti, namun, tawa riang yang selalu membahana itu, siapa yang mau mengganti?

Menjajakan makanan seorang diri, membuat Saya memiliki sahabat hati, bernama sepi. Tawa canda muda-mudi, yang semula mampu menjadi selingkuhan saya dari si sepi, ternyata hanya hadir sesaat layaknya cinta pelacur atau jasa mucikari. Kini Saya harus membujuk sepi untuk kembali, walau masih berharap selingkuhan itu akan hadir lagi, mengisi hati dengan tawa dan bahaknya yang memberi warna-warni.

Hormat penulis, untuk Pak Tua Penjual Nasi.

Tidak ada komentar: