Sabtu, 21 Desember 2013

Madu, Racun, dan Senyum-mu

Bagian I

Terduduk di sampingmu,
bak tengah meneguk madu yang diendapi racun.

Rasa-rasa manis dan memabukkan,
ibarat tengah tenggelam di palung terdalam samudera di satu pulau di surga sana.

Sayangnya, ada racun yang tengah mengintai,
menunggu untuk membelalakkan sakitku,
dan menikam jantungku yang sebenarnya sudah rapuh.

Kamu madu dengan racun,
yang siap memicingkan mata jahatnya padaku.
Yang mau tak mau harus Ku telan,
seolah tak ada sakit, demi manismu.


Bagian II
 
Melihat rekah senyum-mu di pagi itu,
buati sebilah rasa yang bertumpuk rindu.

Mentari memang mampu hidupkan mawar,
namun seyum-mu lah yang buatkan harum pada nya.

Andai bisa Ku bingkai dalam kanvas putih,
lukisan senyum-mu itu,
logam mulia pun tak bernilai,
jika bersanding di ambangmu.

Tolong, jaga terus senyum itu.
Hidupku ini, Ku kaitkan pada bahagia di senyum-mu.

Tidak ada komentar: