Sabtu, 03 Agustus 2013

Obrolan Santap Siang

"Haai, nggak nyangka banget kita bisa jumpa ketemu lagi..." 

"Iya yah, haha, udah lama banget, sejaaak..." 

"...hahaha lo apa kabar sekarang? Udah jadi orang nih kayaknya? Hehehe" 

"Ah lo kali yang pastinya udah banyak uang..." 

"Biasa aja kok, lo kerja di mana?" 

"Di daerah Sudirman, tapi sayangnya gue gak mau ngasih tau di mana rincinya, biar lo penasaran..." 

"Yeee siapa juga  yang mau tau, hahaha, gue sekarang udah gak sepenasaran dulu kali..." 

"Yakin?" 

"Mau bukti?" 

"Enggak juga sih..."

Rini, gadis 23 tahun, yang bekerja di daerah Sudirman itu, sebenarnya berkarir sebagai salah satu anggota tim marketing dari sebuah perusahaan media besar di ibu kota. Gadis berparas ayu dengan kulit khas wanita jawa, yang tak pernah bisa untuk tidak tampil modis walau dalam balutan busana eksekutif muda.

Kamis siang itu dia tak pernah menyangka akan bertemu Bagas, sosok pria yang kini telah berubah 180 derajat jadi stereotipe metroseksual. Pria 24 tahun berdarah minang ini tengah bergelut dengan usahanya yang kian melangit.

"Cari makan Rin?" tanya Bagas.

"Bukan, mau cari jodoh..."

"Hahaha, jutek amat sih, mbak, emang kemana jodohnya sampe dicariin ke tempat makan gini? Hehehe..."

"Udah ah, jangan bahas begituan..."

"Sensitif banget emang kalo jomblo udah ngomongin jodoh, hahaha..."

"Ye kaya yang gak jomblo aja lo!"

"Ya enggak lah, sorry, hahaha..."

Hening menyeruak seketika. Apa yang tak pernah ingin didengarnya baru saja diucapkan Bagas. Rini tertegun sunyi. Bagas yang kebingungan melihat Rini mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Rini. 

"Woy, ngelamun Bu?" 

"Hhh, enggak, gue mau makan dulu ah..."

"Bareng dong..." 

Jam makan siang, waktu yang selalu ditunggu oleh para pencari rupiah untuk melepas sedikit lapar dan penat. Waktu yang juga sangat ditunggu oleh para pemilik tempat makan untuk menambah pundi. Ramai, kadang bisa sesak. Namun, suasana ramai dan bising itu seolah tak mempan buat dua pasang manusia yang baru saja menghabiskan santap siangnya. Ada yang buat Rini menyeruakkan sunyi itu, dan Bagas hanya bisa mengikuti sunyi itu, tak berani untuk memecahnya, terlalu berisiko pikirnya. Tapi, akhirnya...

"Cewek lo orang mana? Temen kerja?"

"Oooh jadi dari tadi diem terus mikirin itu toh..."

"Gue makan yah daritadi makanya diem..." 

"Iya iya, galak amat..." 

"Jadi, gimana?" 

"Gimana apanya?" 

"Pertanyaan gue tadi, jawab dong!"

"Mau tau banget yah? Hehehe" 

"Ih rese, bete ah ngomong sama lo"

Muka ayu Rini berubah masam seketika, seraya badan yang setengah dibalikkan tak mau melihat Bagas. Wanita yang terlihat elegan itu seketika jadi melankolis ditambah childist jika sudah di depan Bagas.

"Mulai deh ngambek-ngambek gak jelasnya, hahaha"

"Bo...do..."

"Mending ceritain kenapa lo masih jomblo? Aneh banget, cantik cantik kok jomblo..."

Rini semakin bertambah kekesalannya mendengar ocehan Bagas seperti itu. Rasa kesal yang sebenarnya sedang berusaha keras menutupi rasa lain yang tak mau ditunjukkannya di depan Bagas.

"Gue jomblo karena memang gue mau, yang ngedeketin gue banyak kok, tapi ga ada yang berhasil masuk standard gue tuh..."

"Widiih, standard-nya tinggi banget kayaknya nih..."

"Jelas lah, kalau mau SERIUS ya harus gitu, biar gak BERHENTI di tengah jalan. Umur segini kalo cuma mikirin buat pacaran sih GAK BANGET..."

Bagas tersentak menelan ludah, merasa tertohok dengan ucapan Rini. Gadis yang sudah dia kenal hampir sewindu itu, tak sekanak-kanakan sebulan lalu, terakhir kali mereka bertemu. Pertemuan yang Bagas kira bakal jadi yang terakhir, namun hari ini semuanya kembali bergulir.

"Ayo dong, Gas, kasih tahu siapa cewek lo, penasaran nih gue..."

Bagas hanya tersenyum. Nampaknya masih ada rasa lama yang mendorong Rini sengotot itu menginvestigasi Bagas.

"Malah senyum lagi, Gaaass..."

Jari lentik Rini menarik-narik kemeja Bagas. Bagas tetap tersenyum, namun ketika matanya menatap mata Rini, Bagas terdiam, dilihatnya linangan air mata yang tak pernah dia duga.

"Kok lo nangis..."

Rini makin mengisak.

"Gueee...gueee..."

Bagas terdiam menunggu yang akan dikatakan Rini.

"Gue masih sayang sama lo, Gas, gue gak mau kehilangan lo, gue nyesel kenapa kita harus pisah..."

Isak tangis Rini makin memberat.

"Pas tadi lo bilang lo udah punya cewek baru, gue, gue..."

Bagas masih terdiam.

 "...gue nyesel Gas, maafin gue, gue dulu udah bikin lo sakit hati sampai tega ninggalin lo..."

"Riiinn..."

"Kalau waktu bisa gue ulang, gue pengen kita bisa sama-sama lagi, Gas..."

"Rin, udah dong jangan nangis gitu..."

"Tapi, kalau emang dia baik buat lo, gue cuma bisa berharap lo bahagia sama dia..."

"Hey, udah dong jangan nangis gitu, boleh gue ngomong?"

Rini mengangguk sembari menarik selembar tissue dari tasnya dan mengusapkan ke mata sipitnya.

"Kata siapa gue punya cewek?"

"Tadi lo bilang lo gak jomblo kan, berarti udah punya cewek kan?"

"Hey, kalo lo mau tau, gue gak pernah ngerasa jomblo sejak terakhir kita ketemu. Walaupun lo bilang putus, gue gak pernah anggap itu serius. Gue selalu ngerasa masih ada lo di hati gue, dan gue yakin sama perasaan itu. Rin, gak pernah ada sekali pun yang bisa gantiin lo di hati gue..."

"...."

Tidak ada komentar: