Jumat, 02 Agustus 2013

Senja Putih Terang

Awan jingga bergelantungan berteman mentari yang tinggal setengah bulat, setengah lainnya sudah ditelan bukit yang menghitam dari kejauhan.  Begitulah senja hari yang terlihat sepasang mata bulat kecoklatan milik Yosie, gadis remaja yang tengah sibuk duduk di kursi ayun di balkon kamarnya.
Senja itu, terasa berbeda dari senja-senja sebelumnya,  bahkan mungkin tak akan terasa sama dengan senja lusa dan hari-hari lainnya. Senja yang terasa putih cerah biar nyatanya jingga pekat. Putih cerah, bahkan bagai sedang berdiam di ruang putih yang tak terlihat satu warna lainnya.

"Ah senja ini sangat indah, anginnya pun sejuk, coba ada Edie di sini, pasti bisa membuatku lebih nyaman. Bisa bersandar bersama atau hanya melihat dia tidur dipangkuku, pasti jadi lebih hangat..." ujar Yosie bergumam sendiri, berharap Edie mendengar dan menemaninya seperti biasa. 

"Kicauan burung walet itu juga buat senja ini lebih lengkap, terasa lebih merdu, tidak kalah dengan merdunya kicauan parkit Ayah di pagi hari setiap Aku hendak berangkat sekolah. Tapi pasti lebih merdu  lagi jika ditambah dengkuran Edie. Hahahaha. Walau tak begitu merdu, tetap bisa menjadi irama yang indah buat telingaku..." gumamnya berlanjut sembari seketika tubuh kurusnya dibaringkan di kursi ayun yang sudah mulai usang itu.

"Senja ini memang sangat berbeda dari biasanya yah..." dengan kepala menempel di bantal corak bunga tulip, suaranya mulai terdengar berat. 

"Iya sangat beda, aku tak pernah menyangka bahwa alam bisa senyaman ini. Tak pernah mengira juga kalau waktu sendiri seperti ini bisa membuat hati tenang. Coba Edie ada di sini, pasti akan ku bagi nyaman dan tenang ini bersamanya." senyumnya mengembang, diiringi bulir air mata yang mulai jatuh perlahan dari mata coklatnya, namun dengan cepat diseka.

Udara senja yang segar itu perlahan masuk ke sela-sela hidung Yosie, nafas panjangnya seakan tak ingin putus menikmati segarnya oksigen yang sedang memenuhi paru-parunya.

"Aku mau seperti ini terus, aku rela apapun yang terjadi asal aku bisa menikmati semua keindahan dan kenyamanan ini. Aku bagai terlahir kembali, Aku, hoaaaaaaammmm..."

Angin senja itu nampaknya membawa serta rasa kantuk buat Yosie. Seketika mata yang sempat sembab itu mulai terpejam perlahan. Namun, belum lama terpejam, sayup suara perempuan terdengar memanggil...

"Yosie..., Yosie..., jangan tidur di sini, Nak, di kamar saja yuk, udah mau maghrib juga." ternyata itu suara Bundanya.

"Hehehe ketiduran nih Bun, habisnya suasananya enak sih di sini." jawab Yosie tersenyum.

"Iya Bunda tau, tapi mending kamu tidur di kamar kamu saja, lagi pula kamu belum istirahat kan dari siang, nanti Bu Dokternya marah lho..."

"Iya Bun..." senyum di bibir mungil Yosie tambah mengembang. 

"Yuk, sama Bunda sini ke kamarnya, nih pegang tangan Bunda, awas pelan-pelan jalannya..." 

Sambil beranjak Yosie bergumam di nuraninya... 

"Selamat tinggal senja hari ini, semoga kita masih berjumpa esok, salam buat Edie di langit tinggi sana yah, Aku tau Edie ada di sana, dan Aku yakin kamu bisa sampaikan salamku buat Edie, terima kasih untuk hari ini senja..." gumaman itu diakhiri suara pintu kaca yang ditutup Bunda. 

Yosie, gadis yang masih duduk di kelas 1 SMA itu harus rela kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan sepeda motor yang dialaminya ketika berkendara berkeliling kawasan kompleks rumahnya. Baru satu hari Yosie harus menjalani hidup yang bagai berada di ruang putih tanpa ada warna lainnya. 

Buat Yosie, itu bukanlah kehilangan terbesarnya, karena  dalam kecelakaan itu, iya pun kehilangan teman baik yang selalu menemaninya, Edie, kucing putih bercorak hitam di bagian kuping kanan dan ekornya. Edie harus pergi lebih dulu ke langit tinggi di sana.

"Selamat jalan, Edie..."

Tidak ada komentar: