Rabu, 31 Juli 2013

Segitiga di Langit Malam Jakarta

Malam itu langit Jakarta masih malu-malu menunjukan pekatnya. Bersamaan dengan para pencari nafkah yang mudik ke bumi peraduan masing-masing. Saat para priyai bersiap bergumul dengan selimut dan bantal hangat mereka, sebuah dilema terjadi tanpa ada yang terka.

Saat itu, jam dinding warung padang Bu Hani menunjuk pukul 10 malam, empat remaja hampir menyelesaikan santap malamnya. Aldi, Nana, Ria, dan Johan, empat mahasiswa yang baru setengah jalan menapaki kuliah mereka, sedang asyik kongkow santai diselingi tawa sekadarnya, mulai kebingungan kehabisan bahan gunjingan.

"...yang lucu pas Pak Lucky negor Ria yang lagi main laptopnya, muka kagetnya Ria kocak parah, hahaha..." ujar Johan, dengan mulut menganga tertawa, tak sadar masih ada sisa kornet di gusinya.

"Ria-nya polos gitu lagi pas dimarahin, tapi lebay juga sih Pak Lucky-nya sampe nyuruh keluar gitu..." sambung Aldi.

"Ah udah dong jangan bahas itu lagi, malu gue..." potong Ria.

"Makanya, kebiasaan lo yang satu itu jangan diulang terus Ri, iya kalo dosennya baik, nah ini Pak Lucky, orang izin ke WC aja susahnya minta ampun..." tambah Nana yang masih sibuk dengan nasi padangnya. Mereka tertawa, Ria hanya bisa tersenyum malu.

Waktu berlalu dengan bahasan yang mulai sampai di titik jemu. Nana masih berjuang menghabiskan nasi padangnya ketika Ria tak sengaja melihat arloji mungil di tangannya.

"Eh udah jam 11 nih, yuk ah pulang..." tambah Ria.

"Duh iya nih, besok gue ada kelas pagi lagi..." ujar Johan.

"Cieee sama-sama pengen balik nih, mau balik bareng yah? Hahaha..." seru Nana sembari menyendok suapan nasi terakhirnya.

"Hhhh apaan sih Na, udah ah cepetan lo makannya..." Ria menggerutu dengan raut kesalnya, Johan hanya bisa senyum malu, Aldi ikut tersenyum sambil sibuk menghitung sisa uang di dompetnya.

"Hahaha tuh mukanya Johan merah gitu kan, hahaha, ciee ciee..." goda Nana tak mau henti meski mulunya masih penuh dengan nasi dan tongkol baladonya.

"Apaan sih Na, ini kita mau pulang tinggal nunggu lo doang nih lama!" Johan menyelak dengan nada marah namun muka masih memerah, sipu-sipu malu.

"Kitanya itu kalian berdua nih ceritanya, hahaha..."

"Udah Na, cepetan ah, bawel nih hahaha..." potong Aldi, merasa tak nyaman dengan celotehan Nana.

"Lo langsung balik kostan, Jo?" tambah Aldi.

"Iya nih, besok ada kelas pagi, gak boleh telat..."

"Oooh, gue kayanya harus ke kampus dulu nih, ada yang harus dikerjain bentar...."

"Hah? Serius lo Di mau ke kampus lagi, mau ngapain?" tanya Ria, penasaran.

"Mau nyelesain satu project-an, kan kalo selesai sekarang, nyampe rumah bisa langsung tidur jadinya, hehehe..." ujar Aldi.

"Yaudah yuk, pulang, gue udah selesai nih. Jo, lo temenin Ria pulang lah Jo, kasian kan lumayan jauh juga jalan dari sini ke kostannya, masa cewek pulang sendiri..."

"Hahaha kenapa lo nyuruh gue sih..." Johan menyangkal dengan raut malu-malu yang tak bisa disembunyikan, muka Ria mulai kesal dengan kicauan Nana.

"Udah ah, gue bisa pulang sendiri kok!" ujar Ria.

"Yaudah yuk ah cabut, gak pulang-pulang nih..." ujar Aldi.

Ria berjalan keluar warung duluan. Johan yang sempat malu, akhirnya memberanikan diri untuk menemani Ria pulang, disusul Aldi yang memang harus ke kampus, Nana sudah sampai di depan kostannya yang memang tidak jauh dari warung.

Bulan dan beberapa gugus bintang jadi saksi kebisuan tiga orang yang berjalan beriringan. Rasa canggung, kesal, bingung, bercampur dengan angin malam yang berhembus agak kencang. Aldi berjalan paling depan menyusul Ria, tak ingin melihat pemandangan yang mungkin bisa buat hatinya tersayat nantinya.

"Biarin mereka berdua aja deh..." Aldi mencoba mengajak nuraninya bicara, namun belum sempat terjawab, jantungnya tersentak ketika menoleh, tepat di samping kirinya, berjalan seorang gadis yang memang sedang jadi bahasan di hatinya, Ria.

Entah apa yang dipikirkan Ria, mungkin dia lebih nyaman berjalan di samping Aldi, atau mungkin dia tak bisa menyanggupi kecanggungan Johan yang hanya bisa melihat Aldi dan Ria berjalan beriringan. Kebisuan itu berlanjut tanpa pernah ada interupsi untuk memecahkannya.

Teras kampus menjadi pemecah sunyi itu. "Gue kampus yah..." ujar Aldi.

"Iya, Di..." sahut Ria dan Johan. Ria mempercepat langkahnya, Johan mencoba mengimbangi langkah kaki Ria. Hingga bayang mereka berdua hilang di kejauhan.

Tinggal saja Aldi sendiri, duduk di kursi teras kampus ditemani meja kayu tempat menyandarkan siku, mencoba mengobati sayatan kecil di hati sambil menyudahi tugas kuliahnya. Ditutupnya buku dan beberapa lembar HVS berisi teori-teori yang tak pernah benar-benar dikuasainya. Kepalanya disandarkan pada sandaran kursi, matanya terpejam, hatinya mulai bergumam: 

"Andai cinta bisa ditebak tanpa harus diucap. Andai saja cinta ini tak terselip diantara sahabat. Andai saja semua berjalan sesuai yang tergurat di otak. Semuanya hanya 'andai'. Ya, pengandaian."

Tidak ada komentar: