Hari itu, saat dua tatap bertemu untuk pertama kalinya. Saling bertukar kisah yang sebenarnya sama-sama tidak ada pentingnya. Berlanjut pada empat mata yang sama-sama menikmati langit pekat di malam Jakarta yang tiba-tiba diguyur hujan.
Kamu bercerita tentang bagaimana kamu begitu suka memetik gitar sambil memekikkan sebait dua bait lagu yang kamu puja itu. Sedang aku, hanya fokus pada bagaimana untuk tetap memberikan perhatian penuh pada ceritamu itu.
Saat itu, kita hanya sepasang yang tidak mau kegalauannya saling meradang. Sama-sama tidak ingin untuk memperlihatkan sayatan-sayatan yang sudah sedikit mengering di hati dan pikiran.
Setahun berjalan di bawah janji-janji itu, Aku dan Kamu bagai orang-orang yang sedang tenggelam dalam kubangan yang hanya melihat kemanisan. Walau tetap saja banyak kesakitan dalam perjalanannya, kita tetap sama-sama meyakinkan, untuk sama-sama berpegang pada kata habis gelap terbitlah terang.
Ketika prosa "Aku sayang Kamu" dan "Aku juga sayang Kamu" sudah hanya jadi kewajiban sebelum menutup mata di hari yang sebenarnya suram, setidaknya buatku, itulah waktu yang tepat untuk benar-benar menutup kisah yang sebenarnya kita sama-sama saling jaga.
Kini, untuk saling menyapa pun, bukan kita tidak bisa, hanya saja, masih perlukah kita saling memberatkan pikir imaji masing-masing? Aku membiarkan kamu menjadi sebuah kupu-kupu tanpa kepompong yang aku yakin, akan jadi lebih indah ketika bisa sendiri terbang di nirwana. Lalu, tolong biarkan aku menjadi sebuah ulat yang tetap memandangmu tanpa berharap untuk menjadi kupu-kupu di kemudian hari.
Kisah itu, biar jadi sesuatu yang akan kita tertawakan bersama, entah sama-sama sebagai kupu-kupu, atau akan tetap berada pada jarak sejauh pucuk daun tertinggi dengan batas terakhir awan yang kamu dapat terbangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar