Tatapan singkat di tempat makan sejuta umat itu,
membuatku sedikit terusik dengan ungkapan konyol "cinta pada pandangan pertama".
Aku yakin, orang selogis Kamu tak mudah menerima ungkapan itu sebagai fakta.
Namun, sepertinya itu sudah jadi nyata, setidaknya buatku, Saskia.
Mengenalmu dengan sangat singkat,
tanpa ada prolog: "Hai, siapa namamu?".
Tanpa ada salam hangat, atau senyum harap, Saskia.
Aku berani bertaruh malu ketika menawarimu secangkir susu.
Aku rela melawan beberapa pobhia-Ku karena titahmu.
Entah, Ku lakukan itu untuk menunjukkan apa.
Mungkin, hanya ingin tak terlihat banci di depanmu.
Di depan orang yang selalu memacu nadiku.
Di depanmu, Saskia.
Singkat waktu dan cerita.
Aku merasa ada "Kita".
Entah benar atau itu hanya bukti sahih bahwa Aku bergolongan darah O.
Golongan darah yang katanya perasa,
yang akhirnya Ku tahu, karena merelakan darahku diambil, di sampingmu, Saskia.
"Kita" itu memang harapku,
yang juga kadang terselip dalam kalbuku di setiap mengharap doa pada-Nya.
Harap yang selalu ku mimpi bisa terwujud.
Harap untuk ada "Kita", Aku dan Kamu, Saskia.
Satu waktu,
ketika Kamu mengirimkan sebuah pinta, padaku.
Pinta yang tak pernah ku minta untuk Kau pinta.
Pinta untuk segera meninggalkanmu, sebelum semuanya terlalu dalam.
Aku hanya akan berkata begini, Saskia:
"Kala semua teduh di bumi ini bisa digabung dengan seikat benang.
Saat sebuah paku payung dapat menembus pelindung gunung bermagma.
Ketika angin yang bertiup lamban dapat mengikis sumsum tulang.
Waktu itu lah (mungkin) Aku akan berhenti mengharapkanmu, Saskia."
Untuk Saskia, dari Aku, penggemar yang dicipta-Nya, untukmu.



