Minggu, 25 Maret 2012

Buat itu Santai Kawan

Sarkasme. Satu kata yang memang jarang terdengar saat ini, namun maknanya sudah melekat di beberapa kebiasaan orang-orang "kini". Entah itu memang sudah budaya, atau karena akulturasi, sarkasme sudah menjadi kebiasaan yang lumrah, entah untuk hanya sekedar candaan bahkan sampai hinaan dan hujatan yang menjatuhkan. Sekilas tentang sarkasme. Sarkasme (Wikipedia) adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Sarkasme adalah bagiuan dari trio majas sindiran, yang lainnya yaitu ironi dan sinisme.

Pada tulisan teman saya di http://kalongkampus.blogspot.com/2012/03/teman-teman-yang-bermulut-pedas.html , dijelaskan tentang akibat buruk dari sarkasme ini.
"Secara pribadi, aku sama sekali tidak tertarik menertawakan kekurangan orang lain dengan style yang sarkas demikian. Menurutku itu sama sekali tidak berguna dan mempermalukan diri sendiri. Aku masih memiliki kekurangan, buat apa aku menertawakan orang lain?"

Sarkasme sudah menjadi bahan candaan baru saat ini. Ada yang memang menganggap hal itu biasa, ada pula yang kadang tak terima. Semua tergantung penafsiran dan daya tahan ketabahan masing-masing.

Solusi terbaik untuk menghadapi sarkasme, adalah sabar. Santai menghadapinya tidak perlu dibawa pikiran. Jika kita berpikir terbuka, semua akan kita hadapi hanya dengan tawa. Jika memang kita jadi korban sarkasme, ambil positifnya saja, jika memang itu benar, introspeksilah, jika tidak tertawalah, anggap itu gurauan.

Percayalah teman, semua itu hanya masalah bagaimana bisa atau tidaknya kita mengekspresikan perasaan. Orang yang pandai bersarkasme mungkin tidak pandai mengungkapkan kebenaran atau tidak pandai mengungkapkan gurauan yang berkualitas. Bagi kalian korbannya, bawa santai saja. Semua akan indah pada waktunya. 

"Muluik manih kucindan murah, awak elok baso katuju"

2 komentar:

Iswarahayu mengatakan...

Wah, endingnya ditutup dengan pepatah minang. Pertanyaannya apa kamu ada keturunan minang?

Yudistira Achmad Nugroho mengatakan...

hahaha ga ada sama sekali ka ayuu, cuma suka aja ngedenger bahasa minang, jadi pengen bisa :D