Ada pria yang mendangu akan getir dalam hati yang mengering.
Entah apa yang dipikir, selaju ombak tak digubris walau kian bising,
Rupanya ada satu masa nyinyir yang buat otak mengepul agak miring.
Raut wajahnya mencoba mengingat tawa lama bersama satu wanita,
Tawa pecah yang gaungnya bisa tenangkan jiwa yang gamang gulana.
Bahasan yang tak pernah nyata dengan bumbu kesal nan berkilah canda,
Menampik semua rasa suka yang bodohnya tak dirasa ada oleh berdua.
Sejenak dia ambil akar kelapa yang mengering, dia tulis di pasir semua keluhnya:
Merajut tenunan cerita yang kita tidak pernah mau, hingga berdawai lanjut dalam cerita haram yang merdu.
Aku tau dia istrimu, sadar dia kekasih di ranjangmu, namun buatku, tidak pernah salah memiliki rasa itu. Rasa yang buatku selalu memimpikan keindahan istrimu, membayangkan diriku selalu bisa bersama dengannya dengan syahdu.
Kamu bertanya siapa yang salah dalam kisah aneh itu? Aku jawab tidak ada, bagiku yang salah itu waktu. Waktu yang mempertemukan dia dan kamu sebelum denganku, waktu juga yang buat aku bertemu dengannya hingga hatiku merayu.
Aku tak akan mengganggu, mungkin hanya akan menunggu, biarkan aku cemburu melihat kalian berdua sambil menggagu. Cemburu dalam diam sambil menertawakan ragu, takdirku kini memng hanya menunggu dalam sendu....."
Coretannya terhenti seketika,
Saat ombak pasang menyeka pasir tempat dia bercerita.
Hanya bisa pasrah melihatnya,
Karena alampun tak rela mendengar tentang kisahnya.
Ah, sudahlah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar