Dian, gadis semester satu yang tengah penat karena soal ujian, berjalan sendirian. Menyusuri satu jalan setapak yang sepi berlapis kayu buatan dengan penghias rupa bunga-bunga layu dengan pot dari rotan. Langkahnya gontai, penatnya dirasa-rasa terus meninggi semampai. Benaknya hanya terpikir satu tujuan, cepat tiba di kontrakan, berbaring di pembaringan. Nafas Dian terdengar berat, ibarat suara tikus yang sedang mengerat. Jalanan yang dipijakinya, serasa menyempit, dahinya yang penuh peluh makin mengernyit.
Semua tambah suram, ketika petir tiba-tiba hadir ramaikan malam, ditambah hujan yang tiba-tiba saja ikut bergumam.
"Ya ampun, kenapa harus hujan...." teriaknya sembari melarikan diri mencari perlindungan. Ketika matanya jelalatan mencari tempat teduhan, terlihat satu pos ronda yang berlampu remang. Tak punya pilihan, Dian gerakkan tubuhnya hampiri persinggahan itu, tanpa pikir panjang langsung duduk termangu, menunggu hujan pulang beradu.
"Aku benci hujan..." gumamnya dalam hati. Entah mengapa air matanya menetes perlahan, menahan amarah dan kekesalan akan hujan.
"...AKU BENCI HUJAAAAN..." teriak Dian sumbang.
Seraya air matanya berlomba dengan tetesan hujan, dikeluarkannya satu buku catatan. Buku lusuh bersampul putih berisi hanya curahan. Lalu diambilnya pensil kesayangan, kemudian tangan dan peensil itu menari merangkai lengkungan tulisan...
Tuhan, Aku benci Hujan...
Kenapa Kau ciptakan Hujan?
Buatku Hujan hanya simbol perselingkuhan, aku benci Hujan...
Langit mempercayai hujan untuk pergi turun ke Bumi, namun Hujan malah selingkuh dengan Bumi...
Ketika Langit dengan ikhlas membiarkan Hujan sejenak pergi ke Bumi, Hujan dengan seenaknya bersetubuh dengan Bumi, tetesan tubuhnya menempel dengan Bumi, menimbulkan kerngat persetubuhan dalam rupa genangan lumpur, bahkan mereka beranak-pinak berupa dalam rupa tanaman, Aku benci Hujan...
Tak sampai di situ, yang dipikirkan Hujan hanya kesenangan pribadinya, dengan tega Hujan membuat Bumi menderita. Lihat saja perbuatannya, dia buat Bumi banjir, dibuatnya sungai jernih berubah keruh, dia buat lembek tanah bumi yang tadinya kokoh, teganya Hujan...
Ketika Hujan sudah bosan dengan Bumi, dia merayu Langit kembali. Padahal Langit telah remuk hatinya karena perseligkuhan yang dibuat Hujan. Hujan membujuk Langit untuk mengasihinya lagi, padahal saat itu Langit ingin mengobati luka hatinya karena kehadiran Matahari.
Langit yang telah berikrar setia dengan Hujan, hanya ingin bersahabat dengan Matahari, kala Hujan berselingkuh dengan Bumi. Namun Hujan tak mau mengerti, Hujan menyingkirkan Matahari dengan bantuan teman jahatnya bernama Awan Mendung. Hingga akhirnya Hujan bersama lagi dengan Langit.
Hujan jahat. Hujan selingkuh dari Langit, membuat Bumi menderita, dan membuat Matahari sakit.
Apa maumu Hujan?
Sekarang kamu buat Aku harus termangu duduk sendirian, tak biasa pulang, Aku benci hujan...
"...AKU BENCI HUJAAAAAAN..." teriak Dian, lagi, sambil melemparkan buku dan pensilnya ke genangan comeran.
"...TUHAN, AKU BENCI HUJAAAAAAAANNNN..." teriakannya makin menjadi memecah malam, membelah hujan.
----
2 komentar:
si Dian harus diberi pelajaran !
*mentang-mentang yang nulis ini suka banget sama hujan*
nanti disalamin ke Dian yah... :p
Posting Komentar