Kamis, 27 Desember 2012

Bising Hujan

Keindahan yang turun tanpa gemuruh kata,
merangkaikan sunyi dalam gemericik angin.
Terpaku dipenatkan bisingnya rintik hujan,
serta gema petir yang endapkan rindu di sukma.

Huru-hara itu sesatkan keanehan lelap,
mengibaskan kata-kata palsu dalam cakra mimpi,
sisihkan liarnya nasib yang terindih untaian bahak.

Kagum akan tawa, melayang diterbangkan lelah,
penjelas letih sibuk mencari senyum yang merekah.
Jilatan puja senantiasa membawa rintihan,
memberi ajaran, 'tuk enggan letih menebas ilalang menuju dakian gunung emas.

Ini puisi pertama yang tertulis di sebuah binder yang kini sudah mulai lusuh, di musim hujan, 2009.

Tidak ada komentar: