Kamis, 13 Desember 2012

Jangan Jumawa, Itu Saja.

Saya percaya akan adanya jalan terang disetiap kegelapan.
Saya juga percaya ada cerah dibalik kesuraman.
Saya yakin akan adanya keajaiban.
Saya yakin akan datangnya kepastian.



Tapi semua itu bukan datang dengan sendiri.
Bukan tiba hanya jika ditunggu.
Semua perlu diraih.
Semua perlu dipicu.

Kita sering mengeluh akan kesendirian.
Menghujat keadaan yang penuh kesedihan.
Menghakimi cerita hidup yang dianggap tak adil.
Mencaci takdir yang berisi kemirisan hidup.

Namun, pernah sadarkah kita?
Ketika rasa sendiri itu muncul, nyatanya itu hanya sugesti pribadi.
Bumi terlalu ramai untuk kita anggap bahwa kita hanya sendiri sepi.
Jangan lupakan Tuhan, dia selalu ada, bahkan saat kita tak mau dia ada.
Masihkah wajar jika kita merasa sendiri?

Pikirkan lagi ketika kita menghujat dan menghakimi keadaan.
Mungkin kita perlu belajar yang namanya ikhlas, mendalami apa arti meberi tanpa pernah harap menerima.
Entah duka atau suka, tergantung kita memaknainya, semua hanya perlu diterima dengan syukur dan lapang dada.
Yakin keadaan sudah diatur Yang Kuasa.
Masih tak terima? Hujat pada yang mengatur, mengadu padanya dengan kelapangan bukan dengan kemurkaan.

Jangan pernah jumawa akan apa yang kita punya.
Sadar, kita bahkan hanya makhluk hina, yang bisanya menghujat dengan alasan idealisme asal-asalan dengan paham yang tidak karuan.
Bukan bicara agama atau masalah keyakinan, pembicaraan ini hanya tentang kesadaran akan eksistensi Tuhan.
Dia ada untuk memberi terang, menghadirkan cerah, dan menampung harap.

Pikirkan lagi jika ingin menghujat Dia.
Sadarlah, siapa yang telah ciptakan kita?
Siapa yang memberi semua yang kita punya?
Jawabannya hanya satu, Tuhan.