Resonansi teriakan Dian masih sayup-sayup terdengar di langit gelap. Nafasnya masih berat, tangisnya memang tak lagi kalap, namun matanya belum hilang dari sembab. Hujan memang belum berniat untuk berhenti, biar pun hanya tinggal rintik gerimis yang memecah sunyi. Hanya petir yang telah dulu pergi ke peraduan, seakan mengisi bahan bakar untuk datang lagi di hari kemudian, saat hujan datang, atau mungkin saat badai menjelang.
Dian menjulurkan tangan ke ujung atap jerami pos ronda, ingin merasakan hujan yang tidak atau masih ada. Ketika yang menjamah tangannya hanya tiga tetesan gerimis yang ada, Dian mengusap sisa air mata, diraihnya semua bawaan untuk pergi dari tempat tadi dia mengadu muraman durja. Langkahnya masih tertatih, menahan amarah akan hujan yang selalu buatnya lebih dari sedih, hatinya seaakan merintih, masih ingin memaki-maki hujan yang selalu buat kalbunya perih.
Sesampainya di jalanan besar, lampu-lampu kuning dipinngir jalan masih tak bisa membantu Dian hilangkan gusar. Biar hujan sudah hilang sepenuhnya, amarah Dian belum hilang seluruhnya. Jarak kontrakan masih panjang, nafas Dian terdengar mulai mengerang, tanda lelah kian meradang.
Dua pasang kaki kecil melewati Dian, sepasang bocah lelaki membelah jalan, sambil berlari girang, payung usang di tangan kanan, dengan tangan kiri menggenggam dua puluh ribuan. Bocah satunya berpayung lebih bagus, badannya kuyup dengan hidung beringus, selembar uang sepuluh ribuan terkepal bagai diberangus. Mereka berjalan di depan Dian sambil bersahutan kata.
"Semoga besok hujan lagi yah, biar bisa dapet cebanan lagi kayak gini..." celoteh yang berpayung bagus.
"Iya yah, coba hujan tiap hari, pasti menyenangkan..." sambung bocah satunya.
Kuping Dian bagai terbakar, mendengar omongan dua bocah yang mengharap hujan sering berpijar. Mulutnya menggerutu, ingin rasanya melempaar keduanya dengan batu, hingga di tersentak satu waktu...
"Uangnya akan ku tabung untuk bayar sekolah aja ah..." bocah berpayung usang berkilah.
"Aku mau bantu bayarin ibuku lahiran dong..." bilang bocah satunya, seakan tak mau kalah.
Dian seketika tersentak, badannya seakan kejatuhan paku, seluruh tubuh serasa kaku mendengar dua kalimat dari dua boch lugu. Dia bergumam dalam kalbu...
"Mereka tertawa karena hujan..."
"Mereka senang karena hujan..."
"Mereka bahagia karena hujan..."
"Hidup mereka dibiayai hujan..."
Mata Dian masih terbelalak, mulutnya tetap menganga, otaknya berpikir keras, hatinya seakan dipukul gada berlapis duri...
"Aku membenci hujan yang baik pada mereka, itukah tega...?"
"Aku memaki hujan yang menolong mereka, ya, itu tega..."
"Aku tega, aku bodoh, selama ini aku terlalu buta, hujan nyatanya tak pernah punya dosa, dia tak pernah melakukan yang buruk yang telah ku duga..."
Badannya mulai melemas, jatuh bertopang lutut ydengan tangan meremas. Kepalanya menengadah, memandang langit yang masih terasa ada rintik-rintik air...
"Maafkan Aku hujan, aku telah jahat padamu, menuduhmu dengan alasan yang nyatanya semu, maafkan aku, aku menyesal, aku tidak akan lagi berbuat demikian..."
Air mata Dian menetes, kepalanya menunduk, sesalnya sudah tak terbendung, ketika tiba-tiba langit berhenti menjatuhkan airnya, angin sejuk menerpa wajah Dian, seakan mengusap air mata Dian hingga mengering. Dian merasa aneh, perasaannya membuat dia menengokkan mata ke langit. Langit malam tiba-tiba membiru, awan mendung perlahan menjauh pergi, menghilang, di susul bintang-bintang bermunculan. Dian terperangah. Tak cukup itu, langit menampakkan bulan, bulan sabit, bagai pertanda bahwa langit tersenyum, menerima maaf bulan untuk hujan.
Dian masih terperangah dengan kejutan dari langit itu, matanya berkaca-kaca. Hati dan otaknya berbunga, mulutnya perlahan menganga, sambil tersenyum dia mengucap...
"Terima kasih hujan, terima kasih langit..."
---
2 komentar:
Fix, temenan baik sama Dian !! :DD
Fix, temenan sama hujan :)
Posting Komentar